Latest Entries »

Selasa, 12 Mei 2020

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-20

Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-20


 MENEGUHKAN IMAN KEPADA ALLAH SWT
Untuk merasakan “Lailatul Qadar”
“kiat-kiat mendapatkan “Lalilatul Qadar”

Usaha untuk meneguhkan iman kepada Allah SWT, adalah merupakan syarat mutlak untuk mendapat “Lailatul Qadar”. Tapa adanya Iman yang kuat atau keyakinan yang menghujam, rasa-rasanya mustahil kita akan mendapatkan “Lailatul Qadar” atau malam kemuliaan Allah SWT. Untuk mengapai “Lailatul Qadar” di utamakan kesungguhan Imannya dalam memperoleh dan meraskan turunnya serta kehadirannya malam kemuliaan Allah SWT (Lailatul Qadar).

Untuk meneguhkan Iman, kita harus mencontoh keimanan baginda Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW, pun sangat yakin kapada Al-Quran yang di turunkan oleh Allah kepadanya. Sebab Al-Quran adalah sember untuk meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah SWT, bagi hamba-hamba-Nya yang ingin meneguhkan keiman yakni dengan Al-Quran. Allah SWT, juga memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk beriman kepada Allah SWT, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, beriman kepada kitab-kitab-Nya dan beriman kepada rasul-rasul-Nya.

Sekarang kita pahami dan renungkan Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 285;

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. 285


Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."(surat Al-Baqarah: 285)

Surat Al-Baqarah ayat 285, menjelaskan bahwasanya baginda Nabi Muhammad SAW, lebih dahulu mengimani Al-Quran. Begitu juga seharusnya bagi ummatnya sungguh-sungguh mengimani Al-Quran sebagaimana Nabi contohkan. Meneguhkan iman kepada Allah SWT, berarti juga menguhkan iman kepada Al-Quran karena pada hakekatnya Al-Quran kalam Allah SWT. Sunguh di dalam Al-Quran itu sendiri bayak terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, baik yang tekstual maupun kontekstual, dengan kita membaca, memahami dan mentadaburi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, maka keimanan kita akan menguat niscaya akan dapat merasakan kehadiran “lailatul Qadar”

Berikut ini kiat-kiat meneguhkan iman kepada Allah SWT, dalam rangka ikhtiar mengapai “Lailatul Qadar;

  1. Lebih bersungguh-sungguh dalam melaksanakan semua bentuk ibadah siang dan malam dibulan ramadhan. 
  2. Memantapkan kembali ketaqwan kepada Allah SWT.
  3. Meneguhkan atau mengkuatkan kembali keimanan kepada Allah SWT.
  4. Menjauhkan diri dari segala hal-hal yang mengurangi keseriusan ibadah.
  5. Melakukan i'tikaf dengan segenap tenaga dan kemampuan. 
  6. Melakukan Qiamul lail dengan tertib dan sungguh-sungguh. 
  7. Berzikir dan tadarus Al-Quran yang lebih di intensifkan lagi. 
  8. Pancarkanlah semngat kesungguhan taubat, tawadhu, tawakal, ikhlas, qona'ah dan mahabbah kepada Allah SWT. 
  9. Memperbanyak do'a bermunajat kepada Allah SWT, dan memohon ampunan kepada-Nya, diantara dengan do'a sebaga berikut.....

 اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Tambahan untuk meneguhkan iman dalam rangka mengapi “lailatul Qadar”. Dalam kitab Ihya Ulumudin, Iman Al-Ghozali Menjelaskan terkait dengan terjadinya malam kemuliaan (lailatul qodar) ;

  • Apabila awal puasa jatuhnya pada hari minggu atau hari rabu, maka “lailatul qodar” terjadi pada malam ke-29. 
  • Apabila awal puasa jatuhnya pada hari senin, maka “lailatul qodar” terjadi pada malam ke-21.
  • Apabila awal puasa jatuhnya pada hari selasa atau hari jumat, maka “lailatul qodar” terjadi pada malam ke-27. 
  • Apabila awal puasa jatuhnya pada hari kamis, maka “lailatul qodar” terjadi pada malam ke-25. Apabila awal puasa jatuhnya pada hari sabtu, maka “lailatul qodar” terjadi pada malam ke-23.

Wallahu A’alam Bis-Shawab.


Wassalam,
20  Ramadhan 1441 H (13 Mei 2020 M)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-19


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-19

  
 MEMANTAPKAN TAQWA KEPADA ALLAH SWT
Untuk mengapai “Lailatul Qadar”
( Kajian ayat Al-Quran)

Tak terasa sekarang puasa Ramadhan sudah yang ke-19 besok lusa sudah puasa Ramdhan yang ke-20. Penulis sedikit merenung tentang puasa level 2 atau 10 Ramadhan yang ke-2 tersebut. Sebentar lagi akan menapaki puasa level 3 yaitu 10 terakhir Ramadhan tahun 1441 H. Seperti kita maklumi bersama, bahwasanya baginda Nabi Muhammad SAW, sangat mengajurkan pada ummatnya untuk berusaha mencari dan sekaligus mendapatkan “Lailatul Qadar”. Sinyal anjuran baginda Nabi Mahummad SAW ini, terdapat pada hadits-hadits Nabi yang mengajurkan untuk mengapai “Laitul Qadar” dan tanggal malam-malamnya pun sudah di informasikan oleh baginda Nabi Muhmmad SAW.

Dalam rangka usaha mencari “laiiatul Qadar”, maka dibutukan semangat dan tekad yang kuat, baik secara lahiriyah dan batiniyah. Peningkatan kulitas ibadah merupakan suatu keharusan, karena sekarang kita sudah berada penghujung level 2 (10 Ramadhan ke-2) dan tinggal satu langkah lagi masuk  pada level 3 (10 Ramadhan ke-3). Mari kita bermuhasabah kembali tentang ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Apakah ketaqwaan kita melemah, biasa aja atau hari demi hari tamabah semangat ibadahnya.

Penulis meyakini dengan seyakin-yakinnya, untuk mengapai dan menadapatkan “Lailatul Qadar”. Jawabannya adalah kita kuatkan dan tingkatkan kulitas ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebab gemblengan atau didikan puasa Ramadhan adalah agar kita menjadi orang-orang lebih bertaqwa kepada-Nya serta mendapatkan derajat taqwa di sisi Allah SWT. Ketika ketaqwan kita sudah istiqamah, bersemangat ibadahnya dan meningkat kualitas taqwaanya kepada-Nya, Niscaya akan merasakan dan mendapatkan “Lailatul Qadar” (malam kemuliaan Allah SWT).

Mari kita baca, pahami dan renungi bersama, Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {183}

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu dapat derajat bertakwa. (Surat Al-Baqarah: 183)

Allah SWT, memanggil orang-orang yang beriman dengan pangilan kesayangan yaitu dengan yaa harfu nida. Yaa harfun nida dalam konteks ini adalah penggilan kesayanyan Allah terhadap makhluk-makhluknya. Pada surat Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT, mengkhususkan bahwasanya yang di panggil hanya orang-orang beriman. Karena sungguh Allah SWT Maha Mengetahui, yang dipanggil ialah orang-orang beriman. Hanya orang-orang berimanlah yang mampu mengerjakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh.

Pada akhir ayat surat Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT, memberikan hadiah bagi orang-orang yang beriman yang mereka menjalankan ibadah puasanya ikhlas kerana Allah semata-mata dan punya motivasi kuat dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan tahun 1441 H, akan mendapatkan derajat taqwa di sisi Allah SWT. Mudah-mudahan dengan semangat motivasi ibadah yang maksimal dan meningkatnya kualitas taqwa, kita bisa merasakan dan mendapatkan malam kemuliaan Allah SWT (lalatul Qadar) di 10 terakhir Ramadhan ini.


Wassalam,
19  Ramadhan 1441 H (12 Mei 2020 M)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com

Minggu, 10 Mei 2020

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-18


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-18


KEMULIAAN ORANG MENUNTUT ILMU
(Renungan Hadits)

Sungguh banyak sekali keutamaan-keutamaan ilmu bagi orang-orang yang pecinta ilmu. Dahulu pada zaman baginda Nabi Muhammad SAW, pada saat umat Islam pengikut masih sedikit dan Rasulullah pun berdakwah masih sembunyi-sembunyi. Seiring dengan berjalannya waktu dakwah Rosulullah berjalan dari rumah-kerumah yang sekarang di kenal golongan para shabat baginda Nabi Muhammad SAW, dakwahnya jalan perlahan-lahan tetapi pasti. Maka semakin banyak orang-orang yang ikut agama Islam. Selanjut dakwah baginda Nabi Muhammad SAW, secara terang-terangan. Karena sudah banyak orang-orang memeluk agama Islam, untuk menyebarkan agama Islam baginda Nabi Muhammad SAW, dalam dakwahnya berani untuk mengajak orang-orang secara langsung baik metode dakwahnya dengan lembut dan ada juga dakwahnya dengan kekuatan yakni dengan perang bagi orang-orang kafir yang tidak mau diajak dengan baik-baik untuk masuk Islam.

Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik yang mereka tidak mau masuk Islam dengan cara diplomasi dengan cara baik-baik. Maka mereka di perangi oleh kaum muslimin yang sudah siap untuk berperang. Seperti kita maklumi bersama bahwasanya perang atau jihad fisabillah dalam Islam mempunya adab atau etika dalam perang. Inilah ajaran agama Islam yang luar bisa, sekalipun perang mereka punya aturan, adab dan etika yang dipakai diantaranya yaitu; tidak boleh membunuh anak-anak kecil, orang-orang tua yang sudah sepuh dan musuh-musuh yang kalah atau meyerah tidak boleh di perangi betapa Indahnya adab dan etika perang dalam ajaran Islam.

Kita para sahabat ataupun orang-orang beriman pada zaman Rasulullah SAW, ketika mereka diajak berperang di jalan Allah (berjihad fii sabilillah). Maka mereka para shabat dengan sigap berperang untuk jihad di jalan Allah, tidak ada rasa takut pada hati-hati mereka, bahkan para shabat rela dan ingin meninggal dalam medan pertempuran atau dalam jihad fii sabilillah untuk demi menegakkan Syi’ar agama Islam. Karena mereka para shabat yakin betul, yang meninggal di medan pertempuran atau jihad fii sabilillah adalah mati yang mulia (mati syahid).

Sungguh indah dalam ajaran Islam, orang giat menacari ilmu atau pecinta ilmu nilai ibadahnya setara dengan orang yang beriman mati syahid. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ فيِ مَنزِلَةِ المُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ الله، وَمَنْ جَاءَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Siapa mendatangi Masjidku ini tanpa tujuan selain kebaikan yang ingin dipelajarinya atau diajarkannya maka ia berada di kedudukan mujahid fi sabilillah. Siapa yang mendatanginya untuk tujuan selain ini maka ia berada dalam kedudukan orang yang melihat-lihat barang orang lain.” (Shahihul Jami’)

Hadits berikut ini, hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A, bahwa Nabi Muhammad SAW, bersabda:

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ، وَمَا وَالَاهُ، أَوْ عَالِمًا، أَوْ مُتَعَلِّمًا (رواه إبن ماجه)

“Dunia terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, atau orang alim, atau pelajar.” (HR. Ibnu Majah)

Sungguh sangat mulia sekali,  bagi kita umat baginda Nabi Muhammad SAW, yang selalu mengerjakan sunnah-sunnah-Nya yaitu dengan istiqamah berzikir kepada Allah SWT, menjadi Alhli ilmu dan pecinta ilmu. Maka mereka Ahli zikir, Ahli ilmu dan pecinta ilmu tidak terlaknat. Bahkan di sisi Allah SWT, mendapatkan kemuliaan. Bagi orang yang beriman dan cinta dengan sunnah-sunnah Rasulullah tidak ada alasan untuk mengisi kehidupan dengan leha-leha. Maka jadikanlah nasehat hadits ini, untuk menambah energi semangat dalam, mencari, menuntut dan menimba ilmu. Wallau A’lam Bis-Shawab.



Wassalam,
18  Ramadhan 1441 H (11 Mei 2020 M)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-17


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-17



RENUNGAN TENTANG “ NUZULUL QURAN ”
(Kajian dan Renungan ayat-ayat Al-Quran)

Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya ayat-ayat Al-Quran yang terjadi di bulan suci Ramadhan. Kebanyakan masyarakat Indonesia kususnya memperingati sebagai “ Nuzulul Quran ” turunnya ayat-ayat Al-Quran yaitu setiap malam 17 Ramadhan. Hal ini sudah menjadi tradisi sebagian masyarakat Indonesia, selalu pemperingati turunnya ayat-ayat Al-Quran yang lebih dikenal dengan sebutan kalimat “ Nuzul Quran ”.

Di lihat dari aspek sejarah agama Islam, bahwasanya pada tanggal 17 Ramadhan telah terjadi peristiwa-peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah Islam. Pada tanggal 17 Ramadhan adalah ada peristiwa besar terjadi sehingga ada ayat-ayat Al-Quran yang di turukan oleh Allah SWT. Hal tersebut tercatat dalam Al-Quran dan di abadikan oleh Allah SWT, di dalam firman-firmannya. Ada beberapa dalil-dalil yang di turukan pada perstiwa “Nuzulul Quran“ pada bulan Ramadhan sebagai berikut. Yaitu surat Ad-Dukhan ayat 3;

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ {3}

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkah dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (Surat Ad-Dukhan: 3)

Hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari surat Ad-Dukhan ayat 3 tersebut. Bahwasanya sungguh Allah SWT, yang telah menurunkan ayat Al-Quran pada malam bulan Ramadahan. Pada malam-malam Ramadhan yang diturunkan Al-Quran, maka malam tersebut di berkahi oleh Allah SWT. Karena malam-malam Ramadhan telah dan sudah di berkahi Allah, sangat di anjurkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW, bagi orang-orang beriman untuk meperbanyak baca doa pada malam tersebut yaitu malam “Nuzulul Quran”.

Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT, berfirman dan menjelaskan bahwa permulaan Al-Quran diturukan adalah pada bulan Ramadhan yang di berkahi. Bahkan di turukannya Al-Quran oleh Allah SWT, mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut, yang dijelaskan oleh Allah pada surat Al-Baqarah ayat 185. Fungsi pertama Al-Quran yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 185, adalah sebagai petujuk bagi semua manusia dan penjelas bagi petujuk itu sendiri. Fungsi Al-Quran selanjutnya yang terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 185 adalah Al-Quran sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil. Keterangan fungsi-fungsi tersebut, bisa di baca dan pahami pada surat Al-Baqarah ayat 185 di bawah ini;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ {185}

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Surat Al-Baqarah: 185)

Selanjutnya keterangan Al-Quran pada surat Al-Anfal ayat 41. Pada Asbabul Nuzulil Quran bahwasanya  surat Al-Anfal ayat 41 di turunkan bertepan dengan peristiwa besar yakni terjadinya  perang badar, yaitu tanggal 17 Ramadhan. Peristiwa perang badar tercatat dalam sejarah Islam adalah perang yang dahsyat. Oleh sebab itu di abadikan dalam Al-Quran oleh Allah SWT. Surat Al-Quran pada ayat 41 tersebut menjelaskan bahwa Al-Quran di turukan kepada hambanya baginda Nabi Muhammad SAW, yaitu pada hari furqon bertemunya dua pasukan. Pertama pasukan orang-orang yang beriaman dan yang kedua pasukan orang-orang yang kafir, terjadilah perang badar ataupun perang besar dan di menangkan dengan gemilang oleh pasukan orang-orang beriman.

Di bawah ini ayat Al-Quran surat Al-Anfal: 41, yang di turunkan oleh Allah SWT , pada peristiwa perang badar.

وَمَآأَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {41}

kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan (perang badar). Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surat Al-Anfal: 41)

Demikianlah ayat-ayat Al-Quran yang di turunkan pada bulan suci Ramadhan. Di masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi yang menasional bahwa tanggal 17 Ramadhan di peringati sebagai “Nuzulul Quran”. Wallahu A’lam Bis-Showab.


Wassalam,
17  Ramadhan 1441 H (10 Mei 2020 M)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-16


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-16


KEMULIAAN ORANG MENUNTUT ILMU
(Kajian dan Renungan Hadits)

Kajian dan perenungan sekarang, berkaitan dangan motivasi pencari ilmu berlandaskan hadits-hadits baginda Nabi Muhammad SAW, lain halnya tulisan yang kemarin-kemarin motivasi pencari ilmu berlandaskan dalil-dalil Al-Quranul Karim. Pencita ilmu adalah orang-orang senntiasa di manapun berada selalu ada semangat motivasi dalam mencari, menutut dan menimba ilmu. Apapun bahasanya yang digunakan bagi orang pencita ilmu. Bagi orang pencita ilmu oleh baginda Nabi Muhammad SAW, sudah menadapatkan sinyal motivasi yang luar biasa, tinggal kitanya mempraktekkan dan mengamalkannya.

Orang pencinta ilmu dari keterangan hadits baginda Nabi Muhammad SAW, ketika mereka pencita ilmu, berjalan dalam rangka mencari, menuntut dan menimba ilmu. Ia akan mendapatkan fadhilah atau keutamaan yang luar bisa yaitu akan di mudahkan jalan menuju surganya Allah SWT. Subhanallah bagi mereka pencita ilmu baru jalannya saja untuk menuju majlis ilmu, sekolah, pesantren dan tempat-temapt yang di gunakan untuk belajar. Yaitu mendapatkan nilai yang istimewa  di akhirat kelak.

Keutamaan pencita ilmu ada keistimewaan yang lainnya, yaitu bagi mereka pencipta ilmu di temani oleh para malaikat-malikat Allah SWT, pada saat mereka belajar. Di tambah lagi mereka pencita ilmu akan mendapatkan doa bahkan di doakan oleh makhluk-makhluk-Nya yang ada lagit yakni para malaikat Allah SWT. Dan makhluk-makhluk Allah SWT,yang ada di bumi pun mendoakan mereka bagi pencita ilmu seperti binatang-bintang, pohon, dan sebagainya termasuk ikan-ikan yang ada di laut akan mendoakan bagi mereka pencinta ilmu.

Keutamaan Ahli ilmu atau pencita ilmu itu di ibaratakan bagaikan  bulan yang memiliki sinar cahayanya lebih terang di banding bintang-bintang. Sedengkan orang Ahli ibadah di ibaratkan bagaikan bintang, yang cahayanya tidak lebih terang dari bulan. Ahli ilmu (pecinta ilmu) itu adalah pewaris ilmu para Nabi. Dan para Nabi tidak mewariskan harta benda yang bersifat keduniaan akan tetapi para nabi mewariskan ilmu untuk ummat manusia di dunia ini. Jika para pencita ilmu bisa mengambil semua hikmah dan pelajaran pada hadits baginda Nabi Muhammad SAW, tersebut, mereka pecinta ilmu akan mendapatkan keutungan yang besar

Berikut inilah hadits baginda Nabi Muhammad SAW, yang diriwatkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah;

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ العِلْمِ، وَإِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي المَاءِ، وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ، كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ، إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ 
أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan perjalankan (mudahkan) ia jalan menuju Surga. Sungguh para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena ridha dengan penuntut ilmu. Sungguh orang alim benar-benar dimintakan ampun oleh makhluk di langit dan di bumi hingga ikan di laut. Keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan atas seluruh bintang. Para ahli ilmu adalah perawis para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya berarti telah mengambil keuntungan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Demikian betapa mulianya bagi orang-orang pecinta ilmu (ahli ilmu), mereka akan mendapatkan keutaman-ketutaman dan keistimewan yang luar biasa. Baginda Nabi Muhammad SAW, dengan gamlang dan jelas memberikan nasehat-nasehatnya bagi semua manusia wabil khusus adalah bagi ummat baginda Nabi Muhammad SAW. Moga kita semua menjadi orang-orang pecinta ilmu dan menjadi pewaris para Nabi, sehingga kita mendapatkan keutungan sangat besar.  

Wallahu a’lam bis-showab.


Wassalam,
16  Ramadhan 1441 H (9  Mei 2020 M)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com


Sabtu, 09 Mei 2020

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-15


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-15


BULAN RAMADHAN 1441 H / 2020 M ISTIMEWA
(Kajian dan Renungan surat Yaasiin: 37-39 )

Bulan Ramadhan tahun 1441 H / 2020 M istimewa, yang menjadikan Ramadhan kali ini istimewa, karena Bulan Ramadhan  hari pertama, di awwali hari yang mulia yaitu ”Al-Jumatu Sayidul Ayaam” hari Jum’at adalah rajanya hari. Kedua, bulan Rmadhan menjadi istimewa adalah satu bulan Ramadhan penuh tahun 1441 H/2020 M, hari jumatnya ada lima jumat dan ini sangat jarang terjadi. Ketiga, bulan Ramadhan 1441 H/2020 M istimewa, pertengahan bulan Ramadhannya adalah tanggal 15 Ramadhan 1441 H/2020 M, jatuhnya pada hari jumat, yang pasti mulia dan di mulikan oleh Allah SWT.

Fenomen bulan suci Ramadhan sungguh mengagumkan ketika dilihat dari kaca mata spiritualitas. Bulan suci  Ramadhan sekarang amat sangat berbeda dengan bulan Ramadhan yang terjadi pada tahun lalu-lalu, kalau di tilik kembali pada jumlah hari jum’atnya bulan Ramadhan ini, yaitu ada lima hari jum’atnya. Hal ini menujukan perbedaannya sangat terlihat, kalau bulan Ramadhan yang terdahulu hari jumatnya hanya kebanyakan empat kali. Dan ini sangat jarang terjadi, jadi bulan Ramadhan terjadi sekarang adalan memiliki misteri  yang tersembunyi  serta bisa jadi menjadi keistimewaan.

Penulis riset kecil-kecilan dan mecermati kembali, bulan Ramadhan sekarang “ Subhanallah Walhamdulillah Waallahu Akabr” pertengahan bulan Ramadhan pun istimewa yaitu tanggal 15 Ramadhan 1441 H, bertepatan jatuhnya hari jum’at, pada malam jum’atnya pun terasa sekali energi spiritualnya. ketika saat Penulis, selesai melaksaakan shalat Isya’ berjama’ah dan di lanjut shalat tarawih dikerjakan secara berjama’ah juga dengan khidmat tersa khusu’ dalam shalat. Selanjutnya penulis keluar rumah untuk melihat bulan purnama tanggal 15 Ramadhan sangat indah pancaran cahayanya yang menerangi bumi pada saat malam hari. Seolah-olah bulan purnama tersebut bertasbih dan berzikir kepada Allah SWT, dengan cahayanya sepanjang malam sehingga bumi yang tunduk dan taat kepada Allah SWT, mendapatkan sinar cahaya bulan purnama tersebut. Cahaya bulan purnama juga seakan-akan dengan suka rela menerangi bumi dengan cahanya sepanjang malam untuk manusia-manusia yang ada pada malam tersebut, ada yang lagi sedang pada ibadah. Entah itu, ibadah shalat-shalat malam, berzikir, bertaddarus Al-Quran dan ibadah-ibadah yang lainnya. Betapa merinding bulu roma dan kagumnya penulis pada saat melihat kembali sinar cahaya bulan purnama, kira-kira jam 3 malam sinar cayaha bulan purnama tersebut, masih sama istiqomah terangnya dengan awwal malam tangal 15 Ramadhan 1441 H/2020 M, Subhanallah Allahu Akbar.

Awwal malam, sinar cahaya bulan pada 15 Ramadhan 1441 H
ba'da shalat tarawih

Akhir malam, sinar cahaya bulan 15 Ramadhan 1441 H
kurang lebih jam 03.00 malam
                                                 
Fenomena pergantian malam dengan siang, beredarnya matahari  pada poros dan beredar bulan pada manzilah-manzilahnya. Demikian itu adalah tanda-tanda kekusaan Allah  Yang Maha Besar, mari kita kaji dan renungkan ayat Al-Quran surat Yaasin ayat 37-39;

وَءَايَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ {37}
 وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ {38}
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ {39}

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. (Surat Yaasin : 37)

dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Surat Yaasin : 38)

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (Surat Yaasin : 39)


Surat Yaasin pada ayat 37, Allah SWT menegaskan sendiri dengan Zatnya Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tentang pergantian siang dengan malam atau sebaliknya malam dengan siang. Hal demikian itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, yang mutlak dan tak terbantahkan.  Terkait dengan fenomena malam hari, Allah SWT, bersumpah demi waktu malam, berarti malam hari adalah waktu-waktu  yang istimewa untuk mengerjakan ibadah-ibadah shalat, berzikir, bertaddarus Al-Quran dan ibadah yang lainnya. Bertepatan dengan bulan Ramahdan ini, bahwasanya  baginda Nabi Muhammad SAW, seakan-akan berpesan langsung bahwa setiap  bulan Ramadhan, sangat di anjurkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan amalan-amalan  ibadah yang saleh dan amalan yang terbaik. Agar Allah SWT, benar-benar mengucurkan rahmat dan ampunannya kepada kita semua.

Matahari berjalan ditempat peredarannya atau matahari berputar pada porosnya, pertiwa tersebut, merupakan sudah ketetapan Allah SWT, Sang Pengatur Alam semesta ini. ketika Kita renungkan sisi lain dari matahari. Cahaya sinar matahari  adalah murupakan salah satu sumber kehidupan ummat manusia di  bumi ini. Coba kita bayangkan bagaimana dan apa yang terjadi...? kalau sinar cahaya matahari Allah AWT, di hentikan selama setengah bulan saja. Niscaya kehidupan kita itu akan mati, oleh sebab itu, kita harus sering-sering bersyukur atas semua nikmat yang Allah  diberikan termasuk mendapatkan cahaya sinar matahari tersebut baik pagi, siang dan sore hari.

Perputaran bulan juga termasuk sudah ketetapan Allah SWT yang Qathi’, dari munculnya bulan sabit, bulan setengah, dan sampai bulan purnama itu, semua sudah di atur oleh Allah SWT, Zat Yang Maha mengatur segala seluruh bianaannya, alam semesta dan termasuk beredarnya matahai dan berputarnya bulan pada pelanet bumi. Hal ini juga wajib kita syukuri, bagaimana kalau bulan tidak beredar dan apa yang terjadi kalau pada malam hari tidak ada sinar cahaya bulan…? pastinya akan sangat gelap bumi tersebut. Waallahu A’alm bis-Showab.


Wassalam,
15  Ramadhan 1441 H (8  Mei 2020 M)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com

Kamis, 07 Mei 2020

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-14


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-14


RAMADHAN MOMENTUM MENIMBA ILMU
(Kajian dan Renungan surat At-Thalaq: 12)

Seiring dengan berjalannya waktu dan berputarnya hitungan hari, tak tersa lagi sekarang sudah pertengahan Ramadhan. Tepatnya adalah tanggal 14 Ramadhan 1441 H, nanti malam dan besok lusa sudah tanggal 15 Ramadhan 1441. Sungguh perjalan dan perjungan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan banyak tantangan serta rintangan yang berat, di tambah lagi kondisi waspada virus korona atau covid-19 ditingkatkan lagi yaitu Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), tiga wilayah cirebon dimauali tanggal 6 mei 2020. Hal ini sangat jelas perjuangan ibadah bulan Ramadhan kali ini, penuh dengan tantangan dan rintangan yang pastinya akan melelahkan lahir, batin dan akan menguras tenaga, emosi dan spritualitas kita untuk memaksimalkan ibadah puasa Ramadhan.

Untuk menghadapi itu semua, hati dan jawa raga kita harus berusaha bersabar tingkat tinggi dan senantiasa bersyukur di kuatkan lagi. Sebab jiwa raga kita untuk berkativitas untuk kesan kemari di batasi oleh aturan manusia. Bahkan sampai-sampai aturan Allah SWT, yang hukumnya Pardu ‘Ain pun, dikalahkan dengan aturan manusia. Pada hal kita maklumi bersama bahwasanya orang yang mejalankan ibadah wajib, puasa Ramadhan doa-doanya adalah mustajab. Apa jadinya kalau ibadah puasa yang sunnah-sunnah di larang dan ibadah pardu ain dilarang juga. Na’udzubillah summa na’uzubillah min dzalik.

Namun demikian sekarang kita muhasabah kembali lagi, untuk berusaha mengambil hikmah dan pelajaran yang lebih banyak, agar kita selalu mendapatkan banyak limpahan  ramhat, ampunan, kemurahan dan dapatkan ilmu Allah SWT. Kita pasrahkan semua kepada Allah SWT, dengan sungguh-sungguh segala apa yang terjadi pada Ramadhan saat ini. Kita sangat yakin bahwasanya Allah SWT adalah pemilik seluruh alam semesta, pemilik tujuh lapis langit dan bumi serta pemelik seluru isi alam dunia ini.

Kita renungkan firman Allah SWT, dalam Al-Quran surat At-Thalaq ayat 12;


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.( الطلاق : 12)

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (surat At-Thalaq: 12)

Firman Allah SWT, dalam surat Al-Athalaq ayat 12 ini, sungguh sangat jelas dan penuh ilmu serta hikmah yang mendalam. Allah-lah pencipta dan pemilik tujuh lapis langit dan bumi, perintah (disini di tafsirkan dengan aturan Allah SWT) seakan-akan Allah SWT, menyeru aturan-Nya berlaku  pada penciptaan tujuh lapis langit dan bumi termasuk semua yang di dalamnya. Sungguh Allah SWT, Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sungguh ilmu Allah SWT, meliputi segala sesuatu ciptaan-Nya. 

Oleh karena itu, semua yang terjadi segala aturan yang dibuat manusia, kita pasrahkan kepada Allah SWT, Sang Pencita sebaik-baik menciptakan aturan, sebab Allah jualah yang mengatur alam dunia ini. Moga Allah SWT, melimpahkan rahmat, ampunan, kemurahan dan ilmu-Nya kepada kita semua. Sehingga kita mejalani ibadah puasa Ramadhan dengan  kuasa-Nya dan dengan aturan yang di ridhoi-Nya.

Wallahu A’lam Bis-Showab... 


Wassalam,
14  Ramadhan 1441 H (7  Mei 2020)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-13


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-13


RAMADHAN MOMENTUM MENIMBA ILMU
(Kajian dan Renungan surat Al-‘Alaq: 1-5)

Untuk menambah ilmu ataupun pengetahuan (sains) sudah barang tentu, sangat berkaitan erat dengan kalam Allah SWT, di dalam AL-Quran surat Al-‘Alaq ayat 1 – 5. Bahwa Allah SWT, menyeru kepada semua manusia baik itu yang beriman atau tidak beriman maka perintah tersebut berlaku bagi semua manusia, untuk selalu membaca, membaca, dan membaca. Seruan membaca pada surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5, kajian tersebut dalam tafsir Al-Quran makna membaca ini sangat luas. Bukan hanya sebatas mata melihat dan mulut membaca melainkan lebih dari itu.

Paling tidak makna membaca tersebut, ada dua ranah yakni membaca ayat-ayat Allah SWT, yang tersurat (yaitu ayat-ayat Al-Quran yang tertulis)  dan membaca ayat-ayat Allah SWT, yang rersirat di alam jagad raya ( tanda-tanda kekusaan Allah SWT, yang ada dialam semesta. Oleh karena itu penulis akan mangkaji  dan merenung sedikit tentang makna kalam Allah SWT, yang terdapat di dalam surat Al-Alaq ayat 1-5.

Berkenaan makna Iqro’, membaca tanda-tanda kekusaan Allah SWT, di alam jagad raya ini. Dalam kajian ilmu Ulumul Quran tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, disebut dengan ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat kauniyah yang ada dialam jagad raya, sungguh mengagumkan telah terhampar di alam semesta. Di alam semesta terdiri banyaknya kumpulan galaksi-galaksi, dan pada satu galaksi terdapt kumpulan planet-pelanet, selanjutnya pada satu kumpulan planet-planet disitu ada tata surya yang beredar pada porosnya, dan di situ ada planet bumi yang kita tempati sekarang. Belum lagi bumi yang kita tempati, ada langit, gunung, lautan dan sebagainya semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.  Bagi orang-orang yang beriman, mereka harus pndai-pandai membaca ayat-ayat kuniyah Allah SWT, agar keimanan mereka meningkat, mengakar dan kokoh kepada Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta.

Makna membaca ayat-ayat Allah SWT, yang tersurat yaitu terkait dengan teks-teks Al-Quranul  Karim, Hal ini juga menjadi sangat penting. Seruan surat Al-Alaq pada ayat pertama adalah perintah membaca. Pada saat diturunkannya surat Al-Alaq ini oleh Allah SWT, kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang dibawakan dan dibacakan oleh malaikat Jibril AS, ketika mungucapkan Iqro’… yaa Muhammad terulang sampai tiga kali, baru ucapan Iqro’ yang ketiga Rasululllah mengucapkan ikut malaikat Jibril secara lengkap.

Ini menjukan bahwa pada peristiwa diturukannya surat Al-Alaq kata “Iqro’ terulang tiga kali. Perintah membaca itu sangat penting bagi semua manusia. Dalam kaidah ilmu ushul fiqh ketika Allah SWT, berfirman menggunkan kata kerja perintah maka itu pada hakekatnya hukumnya adalah wajib. “Al-Amru ashluhu wujubun”  setiap kata keja perintah Allah SWT, pada dasarnya wajib hukumnya. Mari kita kaji dan renungkan kembali firman Allah SWT, pada surat Al’Alaq ayat 1-5;

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ {5}

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pada surat Al-‘Alaq ayat 1-5 tersebut dalam konteks membaca sungguh sarat dengan makna dan hikmahnya. Bahwa perintah iqro’ itu harus diikut dengan menyebut atau nama Sang Pencipta yakni Allah SWT. Dengan demikian ketika sesorang melakukan aktivitas membaca buku, majalah, Koran dan sebagainya maka sangatlah dianjurkan terlebih dahulu dengan menyebut nama Allah SWT, terutama pada saat membaca Al-Quran, agar amaliyah yang kita lakukan mendapatkan kucuran rahmat Allah SWT.

Selanjutnya  makna Iqro’ yang terkait dengan pemahaman surat Al-Alaq ayat 1-5, makna Iqro’nya adalah kita di perintahkan oleh Allah SWT, meng-Iqro’ tentang penciptaan manusia dari segumpal darah, agar kita bisa memhami hikmah penciptaan manusia tersebut. Ini menjukan bahwa manusia secara kasat mata adalah makhluk sangat lemah yang terdiri dari seongok tulang dan daging. Kemudian dengan sifat Allah Yang Maha pemurah, kita manusia yang sangat lemah tersebut, di ajarkan pengetahuan dengan pena-Nya, sehingga kita bisa mengetahui sesuatu yang tadinya tidak mengerti mengajadi mengerti. Itulah ke-Maha Kuasaan Allah SWT, Yang Maha Pemurah bagi hamba-hambanya yang lemah. Oleh karena itu, tidak ada daya dan kekuatan kecuali kekuatan Allah Yang Maha Agung. Seharus kita sebagai hamba-Nya di dalam mengerjakan segala seuatu aktivitas yang positif wajib melibatkan Allah SWT,yaitu senantisa dengan meyebut dan mengingat-Nya, niscaya kita akan mendapatan kucuran rahmat dan kemurahan Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu A’lam bsh-showab…


Wassalam,
13  Ramadhan 1441 H (7  Mei 2020)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com

Senin, 04 Mei 2020

CATATAN RENUNGAN RAMADHAN KE-12


Bismillahir-Rohmaanir-Rahiim
Catatan Renungan Ramadhan ke-12


RAMADHAN MOMENTUM MENUNTUT ILMU
(Kajian dan Renungan Surat Az-Zuumar: 11)

Alhamdulillah wasyukrulillah laa haula walaa quwwata illa billah...

Kajian dan renungan sekarang adalah masih membahas bulan Rmadhan merupakan  momentum untuk Menuntut ilmu. Menuntut ilmu (menimba ilmu) secara hukum menjadi suatu kewajiban bagi orang-orang yang beriman. Manusia yang ingin berubah, maju dan sukses di dalam kehidupannya sudah pasti sangat membutukan ilmu, sebab dengan ilmulah manusia bisa mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya. Tujuan dan cita-cita hidup yang mau dicapai tentunya tidak semuadah membalikan telapak tangan, harus mencari ilmu-ilmunya agar tujuan dan cita-cita kehidupannya tercapai. Sehingga dalam mewujukan tujuan dan cita-cita hidup yang bahagia, sejahtara maka ilmu itu sangat urgen perannya.

Ilmu menjdi peran penting di dalam kehidupan manusia, bagi manusia yang tidak mau berubah, tidak mau maju dan tidak mau suskses di dalam kehidupannya, bagaikan orang yang buta dalam mejalanai hidupnya. Orang yang tidak berilmu digambarkan oleh Al-quranul Karim laksana orang yang buta, yang ia tidak tahu kemana arah jalan hidupannya. Akan tetapi sangat berbeda dengan orang yang berilmu, ia akan paham, mengerti kemana arah jalan hidupannya. Demikianlah salah satu keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.

Mari kita pahami dan renungi kembali, Al-Ouran surat Az-Zuumar ayat 9 berikut ini;

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ .(الزومر: 9 )

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu...?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Surat Az-Zuumar:9)

Pada surat Az-Zumar tersebut, Allah SWT memberikan penjelasan pertanyaan, apakah orang-orang musyrik yang mereka tidak taat kepada Allah menyangka akan dapat keberuntungan, atau  orang-orang yang beriman mereka itu taat beribadat pada waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat serta mengharapkan rahmat  dari Tuhannya, pasti mereka inilah yang akan dapat keberuntungan dari Allah SWT.

Firman Allah SWT, selanjutnya pertanyaan yang sangat indah ditujukan makhluk yang bernama manusia. Kenapa dinamakan makhluk manusia karena hanya makhluk manusialah oleh Allah SWT, diberikan potensi akal sedangkan makhluk yang melata dibumi tidak diberikan berakal. Allah SWT dalam firmannya, bertanya dengan indah kapada hamba-hambanya yang berakal, apakah sama diantara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Bagi manusia yang memliki potensi akal, dia akan mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Quaran yang merupakan pedoman hidup untuk manusia. Jadi orang yang berilmu akan beda derajatnya dengan orang yang tidak berlmu. 
Wallahu A’lam bis-showab.


Wassalam,
12  Ramadhan 1441 H (5  Mei 2020)

Ttd
penulis
Amingsa
aminazra.blogspot.com
aminbhsarab.blogspot.com
aminamjad9.blogspot.com