Latest Entries »

Rabu, 08 Juli 2015

I’TIKAF RAMADHAN

I’TIKAF RAMADHAN
DALAM RANGKA MENJEPUT “LAILATUL QADAR”


Salah satu amalan yang sangat di anjurkan oleh Rasulullah SAW, adalah I’tikaf di masjid. Bahkan Rasulullah SAW lebih mengkhususkan i’tikaf pada 10 ramadhan yang terakhir pada bulan ramadhan ini. Karena Rasulullah SAW,  paham betul keistimwaan-keistimewaan  malam-malam  10 yang terakhir di bulan ramadahan, seolah-oleh Rusulullah SAW tersebut memberikan isyarat, keapa seluruh manusia wabi khusus kepada ummatnya agar mereka, mengikuti jejek beliau sehingga bisa dan mampu menggapai malam kemuliaan yakni “lailatul qodar’’. 

Al Allamah Ibnul Qayyim berkata : "Manakala hadir dalam keadaan sehat dan istiqamah (konsisten) di atas rute perjalanan menuju Allah Ta'ala tergantung pada berkumpulnya (unsur pendukung) hati tersebut kepada Allah, dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati tersebut kepada Allah Ta'ala secara menyeluruh, karena kusutnya hati tidak akan dapat sembuh kecuali dengan menghadapkan(nya) kepada Allah Ta'ala, sedangkan makan dan minum yang berlebih-lebihan dan ber- lebih- lebihan dalam bergaul, terlalu banyak bicara dan tidur, termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah berantakan (kusut) dan menceraiberikan hati di setiap tempat, dan (hal-hal tersebut) akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemah- kan, menghalagi dan menghentikannya."

"Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang menghendaki untuk mensyari- 'atkan bagi mereka puasa yg bisa menyebabkan hilangnya kelebihan makanan dan minuman pada hamba-Nya, dan akan membersihkan kecenderungan syahwat pada hati yang (mana syahwat tersebut) dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah Ta'ala, dan disyari'atkannya (i'tikaf) berdasarkan maslahah (kebaikan yang akan diperoleh) hingga seorang hamba dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat. Tidak akan merusak dan memutuskannya (jalan) hamba tersebut dari (memperoleh) kebaikannya di dunia maupun di akhirat kelak."

"Dan disyari'atkannya i'tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah Ta'ala dan kumpulnya hati kepada Allah, berkhalwat dengan-Nya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk, hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. Hingga jadilah mengingat-Nya, kecintaan dan penghadapan kepada-Nya sebagai ganti kesedihan (duka) hati dan betikan-betikannya, sehingga ia mampu mencurahkan kepada-Nya, dan jadilah keinginan semuannya kepadanya dan semua betikan-betikan hati dengan mengingat-Nya, bertafakur dalam mendapatkan keridhaan dan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Sehingga bermesraan ketika berkhalwat dengan Allah sebagai ganti kelembutannya terhadap makhluk, yang menyebabkan dia berbuat demikian adalah karena kelembutannya tersebut kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur manakala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya, dan (manakala) tidak ada lagi yang dapat membahagiakan (dirinya) selain daripada-Nya, maka inilah maksud dari i'tikaf yang agung itu." 

Demikianlah seklumit tulisan tentang i’tikaf. I’tikaf adalah amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, jangan sampai kita lewatkan, harus kita laksanakan dan amalkan demi cinta kita kepada baginda Rasulullah SAW, dalam rangka untuk mengisi pada malam-malam 10 terakhir ramadahan. Mudah-mudahan kita bisa merasakan dan menemukan kehadiran malam kemuliaan Allah (lailatul qodar). Wallahu ‘alam bishowab...

Wassalam,                                                         
Amingsa syah, Cirebon, Indonesia, 2015
http://amjadamin9.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar