Latest Entries »

Minggu, 05 Mei 2013

BIOGRAFI LENGKAP IBNU KATSIR


BIOGRAFI LENGKAP IBNU KATSIR
MUJAHID AGUNG TAFSIR TERBAIK DIMASANYA

gambar ini dikutip dari embah google 

Riwayat Hidup

Nama lengkap penulis kitab tafsir ibn katsir adalah Imanul Jalil Al-Hafiz Imadud Din, Abul Isma'il ibnu Amr ibnu Dau' ibnu Kasir ibnu Zar'i al-Basri ad-Dimasyqi, ulama fiqih mazhab Syafi'i. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus. Beliau berada di damasyqi pada usia tujuh tahun bersama-sama sodaranya sepeninggal Ayahnya.

Ibnu Katsir juga belajar dari Ibnu Taimiyah dan mencintainya sehingga ia mendapat cobaan karena kecintaanya kapada Ibnu Taimiyah. Ibnu Qadi Syahbah mengatakan dalam kitabnya Tabaqat-nya, Ibnu Katsir mempunyai hubungan khusus dengan Ibnu Taimiyah dan membela pendapatnya serta mengikuti banyak pendapatnya. Bahkan ia sering mengeluarkan fatwa berdasakan pendapat Ibnu Taimiyah masalah talak yang menyebabkan ia mendapat ujian dan disakiti karenanya.

Ad-Daudi dalam kitab Tabaqalul Mufasirin megatakan bahwa Ibnu Katsir adalah seorang yang menjadi panutan para Ulama dan Ahli Huffaz di masanya serta menjadi nara sumber bagi oarang-orang yang menekuni bidang ilmu ma'ani dan alfaz. Ibnu Katsir pernah menjabat sebagai pemimpin majelis pengajian Ummu Saleh sepeninggal Az-Zahabi, dan sesudah kematian As-Subuki ia pun memimpin majelis pengajian Al-Asyafiyyah dalam waktu yang tidak lama, kemudian diambil alih oarang lain.

Lahir dan Wafatnya

Ibnu Katsir dilahirkan pada tahun 700 H atau lebih sedikit, dan meninggal dunia pada bulan Sya'ban tahun 774 H. Ia dimakamkan di kuburan As-Sufiyyah didekat makam gurunya (Ibnu Taimiyah). Ada yang mejelaskan bahwa di penghujung usianya Ibnu Katsir mengalami kebutaan; semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepadanya.
 

Riwayat Pendidikan

Ibn Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibn Katsir dengan putrinya. Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

Prestasi Keilmuan

Ibnu Katsir adalah seorang ulama yang berilmu tinggi dan mempunyai wawasan ilmiah yang cukup luas. Para ulama semasanya menjadi saksi bagi keluasan dan kedalaman ilmu yang dimilikinya sebagai seorang nara sumber, terlebih lagi khususnya dalam tafsir, hadits dan sejarah (tarikh).

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu
Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari.

Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang sholih, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Karya Ibnu Katsir

Selain
Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kesaksian Para Ulama

Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama di zamannya, mau pun ulama sesudahnya. Adz-Dzahabi berkata bahwa
Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits (ahli hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan bermanfa’at.

Ibnu hajar memberikan komentar tentang Ibnu Katsir, bahwa dia menekuni hadits secara muthalala'ah mengenai semua matan dan para perawinya. Ia juga menghimpun tafsir, dan mencoba menulis suatu karya tulis yang besar dalam masalah hukum, tetapi belum selesai. Beliau menulis kitab tentang tarikh yang diberi judul Al-Bidayah wa Nihayah, menulis pula tentang Tabaqatusy Syafi'iyyah serta mensyarahi kitab Al-Bukhari.

Ibnu Habib berkomentar tentang Ibnu Katsir, beliau adalah pemimpin ahli takwil, mendengar, menghimpun, dan menulis. Ketika beliau berbicara mempu mengetarkan telinga-telinga dengan fatwanya yang jeli, Ibnu Kasir juga, banyak mengemukakan hadits yang kemudian banyak memeberikan faedahnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya,
Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta keadaan para perawinya. Para sahahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.

Tafsir Ibnu Katsir adalah merupakan kitab tafsir yang terkenal, bersubjekkan tafsir Ma'sur. Dalam subjek ini kitab tafsirnya merupakan kitab nomor dua setelah tafsir Ibnu Jarir. Dalam karya tulisnya kali ini Ibnu Kasir menitikberatkan kepada riwayat yang bersumber ahli tafsir ulama salaf. Untuk itu ia menfasirkan Kalamullah dengan hadits-hadits dan asar-asar yang disandarkan kepada pemiliknya, disertai penilaian yang diperlukan menyangkut perdikat dhaif dan sahih perawinya. Pada mulanya kitab Ibnu Katsir ini terbitkan bersama menjadi satu dengan kitab Ma'alimut Tafsir karya tulis Al-Bagawi, namun pada akhirnya diterbitkan secara terpisah menjadi empat jilid yang tebal-tebal.

Penutup

Demikianlah secara garis besar dapat dikatakan bahwa pengetahuan Ibnu Katsir tidak diragukan lagi, tampak jelas dan sangat gamblang bagi orang-orang yang mau membacanya kitab tafsir dan kitab tarikhnya ini. Kedua kitabnya tersebut adalah merupakan karya tulis yang paling baik dan suatu karya terbaik yang dipersembahkan untuk ummat manusia ataupun orang banyak di dunia ini.
Waallahu a'lam bishawab.

Wassalam,
Amingsa syah, Cirebon, Indonesia 2013

Selasa, 30 April 2013

BIOGRAFI LENGKAP SAYYID QUTHB


BIOGRAFI LENGKAP SAYYID QUTHB
MUJAHID AGUNG TAFSIR AL-QURAN


Tafsir Fi Zhilaalil-Quran: di bawah naungan al-Quran lahir dari perenungan penulisnya yang sangat mendalam dan interaksi begitu menyatu dengan al-Quran. Ia merupakan buah tarbiyyah Rabbani yang dikaruniakan kepada seorang hamba yang telah menjual dirinya dengan mati syahid di jalan-Nya di atas tiang gantungan. Ia lahir dari seorang mujahid agung yamg mengungkapkan pemikian-pemikirannya dalam gaya bahasa sastra tinggi.

Asy-syahid Sayyid Quthb dilahirkan pada tahun1906 di kampung musyah, Kota Asyut, Mesir. Ia dibesarkan dalam keluarga yang menitik beratkan ajaran Islam dan mencintai Al-Quran. Ia telah bergelar hafizh sebelum berumur sepuluh tahuan. Menyadarai bakat anaknya, orang tuanya memindahkan keluarganya ke Halwan, daerah pinggiran Kairo. Ia memperoleh kesempatan masuk Tajhiziah Daril 'Ulum. Pada Tahun 1929, ia kuliah di Darul 'Ulum atau nama lama Universitas Kairo, sebuah Universitas terkemuka di dalam bidang pengkajian ilmu Islam dan sastra Arab, dan juga tempat al-Imam Hasan al-Banna belajar sebelumnya. Ia mendapat gelar serjana muda pendidikan pada tahun 1933.

Ayahnya meninggal ketika Sayyid Quthb sedang kuliah. Tak lama kemudian (1941), ibunya menyusul kepergian suaminya. Wafatnya dua orang yang dicintainya itu membuatnya marasa kesepian. Tetapi di sisi lain, keadaan ini justru memebrikan pengaruh positif dalam karya tulis dan pikirannya. Karya tulis dan pemikiran-pemikirannya inilah memberikan sumbangsi yang berlian, yang bisa dijadiakan spirit untuk perjuangan generasi berikutnya.

Sejak lulus dari kuliahnya hingga tahun 1951, kehidupanya tampak biasa-biasa saja, sedangkan karya tulisnya menampkan nilai sastra yang begitu tinggi dan bersih, tidak bergelimang dalam kebejatan moral, seperti kebanyakan sastrawan pada masa itu. Pada akhirnya, tulisan-tulisannya lebih condong kepada Islam.

Pada tahun yang sama, sewaktu bekerja sebagai pengawas sekolah di Departemen Sekolah, ia menadapat tugas belajar ke Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuanya di bidang pendidikan selama dua tahuan. Ia membagi waktu studinya antara Wilsons's Teacher's College di Washington, Greeley College di Colorado, dan Stanford University di California. Ia juga mengujungi banyak kota besar di Amerika Serikat serta berkunjung ke Inggris, Swiss, dan Italia.Tidak seperti rekan-rekan seperjalannya, keberangkatannya ke Amerika itu ternyata memberikan saham yang besar pada dirinya dalam menumbuhkan kesadaran dan semangat Islami, terutama sesuadah melihat bangasa Ameriaka berpesta pora atas meninggalnya al-Imam Hasan al-Bana pada awal tahun 1949.

Hasil studi dan pengalamannya selama di Amerika Serikat itu meluaskan wawasan pemikirannya mengenai problem-problem sosial kemasyarakatan yang ditimbulkan oleh paham matrealisme yang gersang akan paham ketuhanan. Ketika kembali kemesir, ia semakin yakin bahwa Islamlah yang sanggup menyelamatkan ummat manusia dari paham matrealisme sehingga terlepas dari cengkraman materi yang tak pernah terpuaskan.

Sayyid Quthb kemudian bergabung dengan Gerakan Islam Ikhwanul Muslimin dan menjadi salah satu seorang tokohnya yang sangat berpengaruh, di samping Hasan al-Hudaibi dan Abdul Qadir Audah. Sewaktu larangan terhadap Ikhwanul Muslimin di cabut pada tahun1951, ia terpilih sebagai anggota panitia pelaksana dan memimpin bagian dakwah. Selama tahun 1953, ia menghadiri konfrensi di Suriah dan Yordania, dan sering memberikan ceramah tentang pentingnya akhlaq sebagai prasayat kebangkitan ummat.

Juli1954, ia menjadi pemimpin redaksi harian Ikhawanul Muslimin. Akan tetapi, baru dua bulan usianya harian ditutup atas perintah Presiden Mesir Kolonel Gamal Abdul Nasser karena mengecam perjanjian Mesir-Inggris 7 juli 1954. karena itu Sayyid Quthb dianggap oleh pemerintah sedang membuat makar, maka pemerintah tersebut menjegal dan menutup redaksi harian Ikhawanul Muslimin.

Sekitar mei 1955, Sayyid Quthb termasuk salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin yang ditahan. Setelah organisasi itu dilarang oleh Presiden Nasser dengan tuduhan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintah. Pada 13 juli 1955, pengadailan rakyat menjatuhkan hukuman lima belas tahun kerja berat. Ia ditahan di beberapa penjara di Mesir hingga pertengahan tahun 1964, ia dibebaskan pada tahun itu atas permintatan Presiden Irak Abdul Salam Arif yang mengadakan kunjungan muhibah ke Mesir.

Baru setahun ia menikmati kebebasan, ia kembali ditangkap bersama tiga sodaranya: Muhammad Quthb, Hamidah, dan Aminah. Juga ikut di tahan kira-kira 20.000 orang lainnya, diantaranya 700 orang wanita. Pada hari senin, 13 Jumadil Awwal 1386 atau 29 Agustus 1966, ia dan dua orang temannya (Abdul Fatah Ismail dan Muhammad Yusuf Hawwasy) menyambut panggilan Rabbnya dan Syahid di tali tiang gantungan.

Asy-syahid Sayyid Quthb menulis lebih dari dua puluh buah buku. Ia mualai mengembangkan bakat menulisnya dengan membuat buku anak-anak yang meriwayatkan pengalaman Nabi Muhammad saw, dan cerita-cerita lainya dari sejarah Islam. Perhatiannya kemudian meluas dengan menulis cerita-cerita pendek, sajak-sajak, keritik sastara, serta artikel untuk majalah.

Diawal karir penulisananya, ia menulis dua buku mengenai keindahan dalam al-Quran: at-Tashwri Fi Fanni Fil Quran, cerita keindahan dalam al-Quran, Musyaahidah al-Qiyaamah Fil Quran, 'Hari Kebangkitan Dalam Islam'. Pada tahun 1984, menerbitkan karya monumental, al-Adalah Ijtima'iayh Fil Islam, Keadilan sosial dalam Islam. Kemudian disusul Fi Zhilaali -Quran' Di Bawah Naungan Al-Quran yang diselesaikan di dalam penjara.

Karya-karya lainnya: as-Salam al-'alamil wal islam 'Perdamaian Internasional dan Islam' (1951), an-Naqd al-Adabii Usuuluhu wa Maanaahijuhuu 'Kritik Sastra, Prinsip Dasar, dan Metode-metode', Marakah al-Islam war-Ra'maaliyah' Perbenturan Islam dan Kapitalisme' (1951), Fit-Tariikh, Fikrah wa Manaahij ' Teori dan metode dalam sejarah', al-Mustaqbal li Haadzad-Diin 'Masa Depan Berada di Tangan Agama ini' , Nahw Mujtama' Islaami' Perwujudan Masyarakat Islam' , Ma'rakatuna ma' al-Yaahuud' Prebenturan Kita dengan Yahudi', al-Islam wa Musykilah al-hadaarah dan problem kebudayaan' (1960), Hadza ad-Din' Inilah Agama' (1955), dan Khashais at-Tashwwri al-Islami wa Mukawwamatuhu' Ciri Dan Nilai Visi Islam' (1951).

Sewaktu di dalam tahanan, ia menulis karya terakhirnya: Ma'aalim fith-Thariq' petujuk jalan' (1960). dalam buku ini, ia mengemukakan gagasannya tentang perlunya revolusi total, bukan semata-mata pada sikap individu, namuan juga pada struktur negara. Selama priode inilah, logika konsepsi awal negara Islamnya Sayyid Quthb mengemuka. Buku ini pula yang dijadikan bukti utama dalam sidang yang menuduhnya bersekongkol hendak menumbangkan Rezzim Nasser.

Tetes darah perjuangan dan goresan penanya mengilhami dan merupkan ruh jihad di hampir gerakan keislaman di dunia ini. Bagi ummat rahmatan lil'alamin, sudah saatnya bangkit untuk berjuang kembali demi menbarkan Syi'ar Islam di seluruh penjuru dunia. Untuk kemaslahatan ummat manusia dengan berpegang teguh pada al-Quran dan sunnah Rasul. Al-Quran dan Sunnah Rasul adalah asas perjuangan yang urgen untuk jihad fi sabilillah semata-mata mangharap ridha Allah SWT.
Waallahu a'lam bishawab.

Wassalam,
Amingsa Syah, Cirebon , Indonesia 2013

Rabu, 24 April 2013

BAHASA KOMUNIKASI "HASANAH"

Bahasa Komunikasi “Hasanah”

 

Salah satu nikmat Tuhan yang diberikan kepada ummat manusia yaitu manusia mampu berkomunikasi dengan bahasa yang “ hasanah”. Berkomunikasi merupakan sarana manusia untuk melancarkan aktivitas-aktivitas kesehariannya. Tanpa adanya komunikasi dengan bahasa yang jelas (hasanah) manusia tersebut akan kesuliatan untuk saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, bahasa sebagai media komunikasi sangat urgen bagi kehidupan manusia, baik sesama manusia di dalam masyarakat maupun yg lainnya.

Berkomunikasi dengan bahasa yang menyentuh hati dan yang lemah lembut ini, adalah merupakan perintah Tuhan Yang Maha Kuasa atas Segala Sesuatu dan Sunnah Rasul. Sebagai manusia yang beradab di era modern ini, seharusnya manusia berkomunikasi dengan bahasa yang beretik tinggi, artinya komunikasi bahasanya mempunyai nilai dan bobot yang tinggi. Apalagi di zaman modern ini, dikaitkan dengan bahasa komunikasi saintis ataupun yang ilmiyah. Sehingga bahasa yang digunakan manusia untuk berkomunikasi tersebut akan medatangkan makna dan hikmah dalam kehidupan.

Berkomunikasi dengan bahasa yang lemah lembut dan dengan bahasa yang ilmiyah merupakan pra syarat untuk mengisi, menata dan merancang masa depan ini. Sebagai gerbang peradaban baru. Tentunya ini diawali oleh individu-individu yang hebat bahasa komunikasinya, salah satunya adalah dengan bahasa komunikasi yang “hasanah” dan sarat dengan ilmiyah.

Demikianlah dalam berkomunikasi kita harus mampu mensinergiskan bahasa yang menyentuh hati dengan bahasa ilmiyah agar yang terucap oleh mulut kita tersebut ada i'tibar dan hikmah. Dan juga untaian kata-kata yang bermanfaat bagi kita, kelurga dan masyarakat sekitar. Kalau kita hubungkan dengan sabada Rasulullah SAW, “Pekataan (ucapan) itu adalah Doa”, jadi alangkah indahnya kalau komunikasi bahasa yang kita ucapan dengan bahasa yang menyentuh hati dan ilmiyah. Agar bahasa yang kita komunikasikan tersebut bernilai tinggi dan menjadi ibadah.

Waallahu a'lam bishawab.
Wassalam,
Amingsa syah, Cirebon, Indonesia 2013

Jumat, 19 April 2013

KEISTIMEWAAN ISTIQAMAH


Keistimewaan Istiqamah dalam Ibadah



Istiqomah adalah suatu amaliyah kerja keras sungguh-sungguh yang dilakukan terus menerus sampai akhir hayat, yang akan selalu diamalkan baik dalam keadaan lapang maupun keadaan sempit. Istiqomah dalam Islam yaitu suatu amalan yang harus dilakukan dalam rangka untuk menggapai kesuksesan di dunia dan akhirat. Terutama tentang segala macam bentuk ibadah kepada Allah SWT, baik ibadah vertikal kepada Allah maupun ibadah horizontal kepada Allah SWT. Dalam ibadah kepada Allah wajib hukumnya diiringi amaliyah Istiqamah dengan kesungguhan, keikhlasan dan ketulusan. Sehingga iabadah yang diistiqamahkan akan dapat memberikan dampak pengaruh perubahan besar pada diri manusia, yang mereka itu selalu berusaha mengistiqamahkan dalam ibadah kepada Allah SWT.

Berikut ini, Maqalah Bahasa Arab yang bisa dijadikan bahan renungan, pemikiran dan pelajaran.

اَلْإِسْـتِقَـامَةِ خَيْرٌ مِـنْ اَلْفِ كَــرَامَةٍ # ثُبُــوْتُ الْكـَـرَامَةِ بـِدَوَامِ الْإِسْـتِقـَـامَةِ
Istiqamah lebih utama dari seribu karomah, dan tumbuhnya karomah dengan menjaga Istiqamah ”

Subahan Allah, Allahu Akbar sungguh menakjubkan, dijelaskan bahwa Istiqamah lebih utama dari seribu karomah dan tumbuhnya karomah dengan menjaga, memlihara Istiqamah.

Jadi Maqalah Bahasa Arab berikut ini, menjelaskan aktivitas-aktivitas ibadah dengan Istiqamah apabila diamalkan dengan sungguh-sungguh terus sampai akhir hayat hidup manusia, maka fadhilahnya lebih baik dari pada sereibu karomah. Dan orang yang selalu menjaga aktivitas-aktivitas ibadah dengan Istiqamah serta sungguh-sungguh. Niscaya akan menumbuhkan dan memunculkan karomah.

Oleh sebab itu kita sebagai hamba-hamba yang beriman kepada Allah SWT dan meyakni kebenaran al-Quran serta Sunnah Rasulullah SAW, tidak ada alasan untuk meninggalkan aktivitas-aktivitas ibadah dengan Istiqamah. Menjadi sebuah keharusan dalam segala aktivitas-aktivitas ibadah kepada Allah SWT dengan Istiqamah disertai kesungguhan, keikhlasan dan ketulusan. Agar kelak dikemudian hari kita mendapatkan beribu-ribu karomah.
Waallahu a'lam bishawab,

Wassalam,

Rabu, 17 April 2013

UJIAN HIDUP VS KETENANGAN HIDUP


Ujian Hidup VS Ketenangan Hidup


Ujian hidup pada hakekatnya adalah penataran, pelatihan dan pembinaan dari Sang Pencipta Kehidupan Alam Jagat Raya ini. Ujian hidup sudah merupakan ketentuan dan ketetapan Ilahi Rabbi untuk semua ummat manusia dimuka bumi ini. Ujian hidup juga bisa dikatakan sebagai wadah pembinaan langsung dari Allah SWT, untuk menguji kadar keimanan, ketaatan dan kepatuahan seseorang kepada Sang Pencipta kehidupan ini, yakni Allah SWT.

Ujian hidup yang menyapa manusia yaitu ada dua macam ujian. Pertama ujian hidup yang menyenangkan, ketika manusia diuji oleh Allah SWT, dengan hal-hal yang enak. Maka kebanyakan manusia tersebut seakan-akan manusia itu tidak merasakan ujian bahwa hal tersebut datang dari Allah SWT. Pada ujian ini, kebanyakan manusia sering tejebak dengan perbuatan lalai dan kurang mensyukuri akan nikmat ujian hidup. Pada hal semua hal-hal yang enak itu, tetap merupakan ujian hidup juga, dari Allah SWT. Akan tetapi kebanyakan manusia kurang menyadari nikmat ujian tersebut.

Ujian hidup yang kedua yaitu hal-hal yang menyulitkan manusia, pada ujian inilah sebagian manusia tidak sabar dalam menghadapinya. Terkadang manusia banyak yang keluh-kesah, stress, galau dan segala sesuatu hal yang masih ada kaitannya dengan namanya, kesusahan serta kesempitan hidup. Kesusahan dan kesempitan hidup ini adalah ujian hidup yang pasti akan dialami oleh semua manusia, wabil khusus manusia-manusia yang beriman kepada Allah SWT. Allah SWT menguji hamba-hambanya dalam rangka menilai kadar keimanan, ketaatan dan ketundukan kepada-Nya. Tinggal manusianyalah bersabar dan tawakal kepada Allah SWT dalam mengahadapi kesusahan, kesempitan hidup ataupun ujian hidup. Karena Allah SWT mempunyai maksud, dengan melalui media ujian tersebut, pasti Allah menginginkan hamba-hambanya menjadi yang lebih baik dan terbaik, menjadi lebih sholeh dan diangkat derajatnya di dunia maupun di akhirat.

Ketenangan hidup adalah salah satu kenikmatan hidup yang wajib disyukuri oleh semua manusia sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Sang Pencipta Kehidupan. Semakin dekat manusia kepada Sang Pencipta Kehidupan (Allah SWT), maka manusia tersebut akan samakin tenang menjalani kehidupannya. Kehidupan manusia yang sudah dekat kepada Sang Pencipta Kehidupan dan kehidupannya pun dijalani dengan rasa tenang. Hal ini akan memunculkan kadar keimana, ketaatan dan kepatuahan kepada Allah SWT akan semakin meningkat. Walaupun nanti dikemudian hari akan di uji oleh Allah SWT dari berbagai macam masalah, baik itu hal-hal yang tidak enak maupun hal-hal yang enak. Karena hatinya sudah dekat kepada Allah SWT, maka manusia tersebut akan selalu tenang mengahadapi ujian hidup.

Wa Allahu a'lam bisshawab,

Wassalam,

Jumat, 12 April 2013

Design Blog: A 3 Column XML template

Rabu, 10 April 2013

Motivasi Hadits dan al-Quran untuk Sedekah

Spirit Hadits dan Al-Quran untuk menghalau
kesusahan, kesempitan dan utang piutang



Spirit ataupun motivasi Hadits dan Ayat al-Quran adalah untuk semua manusia yang meyakini akan kebenaran Hadits Rasulullah dan Ayat al-Quran, ini merupakan sebagai modal dasar manusia untuk mengatasi permasalahan-permasalahan hidup di dunia seperti; kesusahan, kesempitan dan utang piutang.

Bagi manusia yang beriman wajib meyakini kebenaran Hadits dan Ayat al-Quran, karena Hadits dan Ayat al-Quran inilah pedoman atau tuntunan yang menjelaskan, menegaskan dan memerintahkan, untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidup di dunia ini. Permasalahan hidup tersebut bisa diatasi dengan mematuhi perintah-perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan penuh keyakinan yang kuat serta menghujam dalam hati.

Berikut ini beberapa dalil Hadits dan Ayat al-Quran yang menjelaskan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam rangka untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di dunia ini. Pasti semua manusia yang hidup di dunia ini, pernah merasakan yang namanya, kesusahan, kesempitan dan utang piutang. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang mau mewujudkan rasa syukurnya, wajib baginya untuk memahami dan sungguh-sungguh mengamalkan kembali ayat-ayat al-Quran dan Hadits-hadits Rasulullah SAW agar permasalahan-permasalahan tersebut bisa teratasi dengan baik, tentunya dengan mengharap kemurahan dan keridhan Allah SWT.


بسم الله الرحمن الرحيم

بَدِرُ بِصَدَقَةٍ، فَإِنَّهُ بَلى لَا يَتَخَطَّهُ (الحديث)

Bersegeralah bersedekah karena bala (kesulitan,kesusahan atau permasalahan) tidak pernah bisa mendahului sedekah”.


وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانِ عَبْدُ فِي عَوْنِ أخِيْهِ (الحديث)

Allah berkenan membantu hambanya, selama hambanya berkenan membantu sodaranya”.


وَمَنْ قُدِرُعَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِــقُ مِمَّـا أيتَــهُ اللهُ (الطلاق:7 )

Maknanya: Barang siapa yang disempitkan rizkinya, maka hendaklah ia banyak-banyak menginfakan hartanya yang diberikan Allah. (At-Thalaq:7)


لَنْ تَنَالُوا الْبِـــرَّ حتَّـــى تُنْفِــقُ مِمَّــا تُحِبُّـــوْنَ (ال عمران:92)

Artinya: Kalian tidak akan mencapai kebaikan, sampai kalian bisa mengorbankan apa yang kalian cintai. (Ali Imran:92)

 

Fadilah sedekah itu ada empat: mengudang datangnya rizki, menghalau kesulitan, menyembuhkan penyakit dan memperpanjang umur.

Demikianlah sedikit penjelasan tentang bagaimana mengahadapi permasalahan hidup ini, yakni untuk mengatasi kesusahan, kesempitan dan utang piutang. Tentunya kita kembali kepada tuntunan hidup yaitu al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, agar kita dapat dimudahkan segala urusan kita di dunia ini dan mendapatkan keberkahan serta ridha dari Allah SWT.

Wa Allahu a'lam bisshawab,

Wassalam,