Latest Entries »

Senin, 27 April 2026

PANDANGAN AL-QUR’AN DAN HADITS MENGAJAR SEBAGAI PANGGILAN HATI

 

PANDANGAN
 AL-QUR’AN DAN HADITS
MENGAJAR SEBAGAI PANGGILAN HATI
(Amingsa)



Aktivitas mengajar adalah salah satu kegiatan yang sangat dihargai dalam ajaran Islam. Tidak sekadar pekerjaan, mengajar merupakan bagian dari ibadah dan wujud kepedulian terhadap kemajuan umat. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, mengajar memiliki kedudukan yang tinggi karena erat kaitannya dengan penyebaran ilmu, pencerahan jiwa atau spiritual, dan pembentukan akhlak mulia.

Keterangan dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11, Allah SWT, menyatakan bahwa Dia (Allah) akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu. Ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan mengajar bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga menjadi jalan kemuliaan bagi pengajar itu sendiri. Derajat yang tinggi bukan hanya di mata manusia, tetapi juga di pandangan Allah SWT.

Sebab mengajar itu, panggilan hati berarti menjalankan tugas tersebut dengan penuh ketulusan hati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Niat inilah yang menjadi pembeda antara mereka yang mengajar hanya karena kewajiban pekerjaan dan mereka yang mengajar karena ketulusan hati atau cinta dan tanggung jawab spiritual. Mengajar juga merupakan warisan tugas kenabian. Allah menyebutkan dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2 bahwa Rasul diutus untuk membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah. Dengan demikian, guru sejatinya adalah mereka yang meneruskan misi para nabi, yakni membimbing umat menuju kebenaran melalui ilmu.

Dalam pandangan Islam, ilmu disebut sebagai cahaya atau nur. Mengajar berarti menyalakan cahaya tersebut dalam kehidupan murid-muridnya. Dalam Surah Az-Zumar ayat 9, Allah SWT, menegaskan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Ini menjadi motivasi bagi para guru untuk terus berbagi ilmu demi mencerahkan kehidupan. Rasulullah SAW, bersabda “bahwa salah satu amal yang pahalanya tidak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat. (HR. Muslim). Artinya, guru yang mengajar dengan hati dan niat ikhlas akan terus mendapatkan pahala selama ilmunya diamalkan oleh orang lain, bahkan setelah wafat sekalipun.

Aktivitas mengajar juga menuntut kesabaran dan ketekunan. Dalam Surah Ali Imran ayat 200, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bersabar dan saling menguatkan. Guru yang sabar dalam menghadapi karakter murid yang beragam menunjukkan bahwa ia mengajar dengan sepenuh hati, bukan semata-mata karena kewajiban. Mengajar merupakan bentuk dakwah yang mulia. Dalam Surat An-Nahl ayat 125, Allah SWT, memerintahkan agar berdakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Seorang guru, melalui ilmunya, menyampaikan kebaikan dan membimbing murid-muridnya ke jalan yang lurus.

Dakwah melalui pendidikan adalah bentuk dakwah yang paling efektif dan berkelanjutan. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam mendidik umat. Beliau tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan akhlak yang mulia. Sabda beliau, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad) menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga keluhuran budi.

Keutamaan guru dalam Islam ditegaskan pula oleh para ulama. Imam Al-Ghazali menyebut guru sebagai orang tua spiritual yang membentuk akal dan jiwa murid. Oleh karena itu, mengajar dengan hati akan membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Mengajar adalah bentuk sedekah ilmu. Rasulullah SAW, bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim). Dengan mengajar, seorang guru membantu muridnya menjalani kehidupan lebih baik, dan pahalanya akan terus mengalir.

Sejarah Islam mencatat banyak tokoh besar yang menjadikan belajar dan mengajar sebagai panggilan hidup, seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Bukhari. Mereka bukan hanya ulama, tetapi juga guru sejati yang mengajar karena cinta kepada ilmu dan karena dorongan keimanan. Aktivitas mengajar juga bermakna membentuk akhlak. Al-Quran Surat Luqman memberikan contoh bagaimana seorang ayah mendidik anaknya dengan hikmah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter adalah bagian penting dari proses belajar-mengajar yang dilakukan dengan hati yang tulus dan kebijaksanaan.

Keikhlasan guru dalam belajar dan mengajar sangat mempengaruhi keberkahan ilmu. Ulama seperti Ibnu Qayyim menyebut bahwa ilmu yang disampaikan dengan keikhlasan yang tulus akan lebih mudah meresap ke dalam hati murid-muridnya. Guru yang belajar dan mengajarnya dengan hati tak hanya mengisi akal, tapi juga menghidupkan jiwa dan kecerdasan spiritualnya.

Akhirnya, mengajar adalah bentuk cinta yang tulus disertai dengan doa. Guru sejati tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendoakan kebaikan murid-muridnya. Cinta yang tulus dan doa inilah yang menjadi kekuatan spiritual seorang guru, yang membuat ilmu itu tidak hanya dibaca, ditangkap, dipahami akan tetapi juga ilmu tersebut melekat di dalam hati murid-mutridnya.

Wallahu a’lam bis-showab.

 

TENTANG PENULIS

AMINGSA, S. Pd.I, M.A., adalah putra Tambelang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Lahir di Bekasi, ia anak keenam dari pasangan Bapak Moh. Muin dan Ibu Nyamoliyah. Semasa sekolah SDN 1 Sukarapih Tambelang Bekasi, MTs Al-Muttaqien Tambelang Bekasi, di Mts Amingsa mendapat rangking juara kelas, minimal tiga besar. Ia meneruskan pendidikan ke Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, selama belajar di An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, ia sempat mengaji kitab Misbah Az-Zhulam langsung dengan Syekh Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dar (Alm), beliau adalah penyusun kitab Misbah Az-Zhulam dan menjadi tokoh ulama besar Nasional dari Kota Bekasi.

Menamatkan pendidikan Bahasa Arab, S1 di STAIN Cirebon dan S2 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tamantirto Yogyakarta. Sekarang aktivitasnya mengajar di MAN 1 Kota Cirebon Jawa Barat, sebagai Guru pengampu Bahasa Arab. Menjadi Pembina PAKIBRA dari tahun 2016 sampai 2020, Prestasi yang pernah di dapat juara harapan 2 tingkat Nasional tahun 2017 di Sumedang Jawa Barat dan juara 1 PBB tingkat Nasional tahun 2017 di Kaplongan Indramayu Jawa Barat. Menjadi tutor pengajar Kitab Kuning di Ma’ahad Jami’ah UIN Syekh Nurjati Cirebon dari tahun 2017 sampai sekarang.

Bagi pembaca yang budiman dan baik hati, jika ingin berkomunikasi dengan Penulis, bisa menghubungi gmail: amingsasyah@gmail.com, Facebook: Amingsa Syah, Instagram dan Telegram.

Wassalam,
Amingsa
http://aminazra.blogspot.com
http://aminbhsarab.blogspot.com
http://buku.bek.link/
Tahun 2026


Kamis, 08 Mei 2025

SEDIKIT MEMAHAMI TAKDIR ALLAH SWT DAN IKHLAS

 

SEDIKIT MEMAHAMI TAKDIR ALLAH SWT DAN IKHLAS

(Oleh Amingsa)

 

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). 

Takdir adalah semua ketentuan-ketentuan Allah Swt yang terjadi pada semua makhluknya termasuk manusia. Kita sebagai manusia tidak luput dari guratan-guratan takdir yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Sang Maha Sutradara kehidupan manusia yakni Allah Swt. Dalam kehidupan ada sebagian manusia mendapatkan kemudahan, kebahagian, berkecukupan dan bergelimang harta benda atau kekayaan. Dan ada juga sebagian manusia yang mendapatkan kesulitan, kesedihan, kekurangan dan kemiskinan.

Takdir mendapatkan kemudahan, kebahagian, berkecukupan dan bergelimang harta benda, ini semua merupakan ujian kenikmatan hidup yang banyak disukai oleh semua manusia, baik itu orang-orang yang beriman atau pun tidak beriman. Namaun kebanyakkan manusia yang menerima dan menjalani kenikamatan hidup tersebut, tidak sedikit mereka yang lalai untuk bersyukur serta kurang ikhlas menjalaninya, padahal kalau kita sadari betul kenikmatan itu semua ditakdirkan oleh Allah Swt. Hal demikian inilah yang menyebabkan kebaikan-kebaikan tersebut tidak timbah oleh Allah Swt.

Sedangkan kesulitan, kesedihan, kekurangan dan kemiskinan itu adalah ujian hidup juga yang ditakdirkan  oleh Allah Swt, pada makhluknya yang bernama manusia, akan tetapi kebanyakkan manusia tidak menyukainya. Kita ketahui bersama pada hakekatnya takdir baik dan buruk yang terjadi pada setiap manusia itu semuanya datang dari Allah Swt. Tinggal diteguhkan kembali keikhlasan manusianya itu sendiri dalam menjalani dan menerima takdir Allah Swt. Baik itu, takdir yang hasanah maupun yang buruk, tentunya menurut pandangan Allah Swt, bukan pandangan manusia sebab hanya pandangan Allahlah yang terbaik.

Boleh jadi ketika kita sudah ikhlas dengan maksimal untuk menerima dan menjalani takdir Allah Swt yang buruk tersebut. Barangkali memang itu yang terbaik untuk kita, dalam pandangan Allah Swt, maka insyaallah yang akan terjadi adalah dibalik kesulitan akan datang kemudahan, dibalik kesedihan akan datang kebahagian, dibalik kekurangan akan datang kecukupan dan dibalik kemiskinan akan datang kekayaan.

Terkait dengan memahami ilmu keikhlasan sepertinya mudah untuk diucapkan namun sulit dilakukan. Sedikit manusia yang bisa ikhlas terhadap takdir yang menimpa dirinya. Banyak yang gagal mencapai keikhlasan sehingga seseorang tidak bisa menerima takdir Allah Swt dan bahkan ia (manusia) melalaikan-Nya. Padahal sesungguhnya menerima takdir Allah Swt dengan ikhlas, itu bagian dari keimanan. Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik, jika mau menerima takdir Allah Swt, meskipun terkadang harapan tidak seindah kenyataan.

Contohnya dalam menjalani kehidupan rumah tangga, meskipun sudah berusaha dengan baik, terkadang masih saja tidak bisa menerima takdir berupa kesulitan ataupun kegagalan. Sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, seringnya membuat lupa kepada Allah Sang Pencipta takdir. Lupa bahwa Allah Swt itu telah berjanji, tidak akan membebankan seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, dan Allah Swt lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-hambaNya.

Apa yang menurut pemahaman dan pandangan kita tidak baik, bisa jadi ini bukanlah akhir dari segalanya. Tanamkan pada diri kita keyakinan bahwa ujungnya pasti yang terbaik menurut pandangan  Allah Swt, bukan menurut pandangan manusia. Ketika seseorang mampu ikhlas menerima takdir dan ketentuan Allah Swt atas dirinya, ia akan rela menganggapnya sebagai kebaikan dan cobaan yang harus dihadapi serta menjadi amal ibadah yang luar biasa disisi Allah Swt.

Wallahu a’lam bis-showab.

TENTANG PENULIS

AMINGSA, S. Pd.I, M.A., adalah putra Tambelang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Lahir di Bekasi, ia anak keenam dari pasangan Bapak Moh. Muin dan Ibu Nyamoliyah. Semasa sekolah SDN 1 Sukarapih Tambelang Bekasi, MTs Al-Muttaqien Tambelang Bekasi, di Mts Amingsa mendapat rangking juara kelas, minimal tiga besar. Ia meneruskan pendidikan ke Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, selama belajar di An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, ia sempat mengaji kitab Misbah Az-Zhulam langsung dengan Syekh Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dar (Alm), beliau adalah penyusun kitab Misbah Az-Zhulam dan menjadi tokoh ulama besar Nasional dari Kota Bekasi.

Menamatkan pendidikan Bahasa Arab, S1 di STAIN Cirebon dan S2 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tamantirto Yogyakarta. Sekarang aktivitasnya mengajar di MAN 1 Kota Cirebon Jawa Barat, sebagai Guru pengampu Bahasa Arab. Menjadi Pembina PAKIBRA dari tahun 2016 sampai 2020, Prestasi yang pernah di dapat juara harapan 2 tingkat Nasional tahun 2017 di Sumedang Jawa Barat dan juara 1 PBB tingkat Nasional tahun 2017 di Kaplongan Indramayu Jawa Barat. Menjadi tutor pengajar Kitab Kuning di Ma’ahad Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon dari tahun 2017 sampai sekarang.

Bagi pembaca yang budiman dan baik hati, jika ingin berkomunikasi dengan Penulis, bisa menghubungi gmail: amingsasyah@gmail.com, Facebook: Amingsa Syah, Instagram dan Telegram.

Wassalam,
Amingsa
http://aminazra.blogspot.com
http://aminbhsarab.blogspot.com
http://buku.bek.link/
Tahun 2025 

Sabtu, 26 April 2025

SUMBANGSIH PEMIKIRAN GURU MERDEKA

 

SUMBANGSIH PEMIKIRAN GURU MERDEKA 

Oleh Amingsa 

 

Seiring berjalannya waktu Bangsa Indonesia sudah merdeka 78 tahun, waktu yang cukup lama, tidak muda lagi. Kalau sedikit direnungkan waktu tersebut adalah waktu yang sudah cukup matang dan memungkinkan untuk merdeka dari berbagai macam hambatan-hambatan di dalam pendidikan. Indonesia yaitu bangsa merdeka menuju Indonesia merdeka yang sejati, tidak terjajah dalam segi apapun.

Terutama dalam dunia pendidikan, salah satu unsur sangat penting yaitu peran seorang guru. Ketika peran guru terhambat oleh kepentingan-kepentingan yang tidak ada kaitannya dengan dunia pendidikan, niscaya peran guru akan kurang maksimal dalam memperjuangkan pendidikan yang berkualitas dan merdeka. Oleh karena itu kiprah seorang guru sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran di sekokah (madrasah). Terkait dengan guru yang merdeka, ia harus bisa memahamai kualitas dirinya. Agar seorang guru tersebut, paling tidak memiliki empat kunci pengembangan diri untuk jadi guru merdeka, diantaranya; kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karir guru.

Kualitas pertama guru merdeka kuncinya adalah kemerdekaan, paling tidak ada dua unsur dalam memperjuangkan kemerdekannya. Yaitu kemerdekaan seorang guru dalam pengemabangan diri, dari berbagai aspek pengetahuan, keterampilan dan pelatihan-pelatihan profesi guru. Pelatihan-pelatihan profesi guru inilah, termasuk suatu hal sangat penting diperjuangakan sebab berkaitan erat dengan guru professional yang merdeka serta dapat menjadi guru-guru harapan masa depan. Namun tidak sedikit guru yang kurang bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan pengembangan potensi dirinya. Oleh sebab itu dibutuhkan kerjasama yang harmonis dengan lembaga-lembaga balidiklat resmi dari pemerintah yang berkaitan langsung dengan profesi guru, agar kelak nanti benar-benar terwujud guru yang professional dan merdeka.

Kualitas kedua guru merdeka kuncinya yaitu, kompetensi (memiliki kemampuan diri sebagai seorang guru) secara umum idealnya seorang guru harus memiliki empat kompetensi ataupun kemampuan; pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional. Seoarang guru yang pantang menyerah, ulet, cerdas dan bijaksana. Ia akan terus berupaya meningkatan kualitas kompetensinya sebagai guru. Ketika sudah meningkat kualitas kemampuan (kompetensi) pedagogis, kepribadian, social dan professional, maka inilah merupakan harapan yang akan terwujud guru yang sejati dan merdeka.

Kualitas ketiga guru merdeka kuncinya ialah kolaborasi, maka seoarang guru yang cerdas dan bijak yakni mampu mengkolaborasi kemampuannya (kompetensinya), baik kompetensi internal maupun eksternalnya. Terkait dengan kompetensi internal yaitu kemampuan pedagogis, kepribadian, sosial dan professional. Ini merupakan kompetensi terintegrasi ataupun satu kesatuan yang saliang melengkapi dan menguatkan untuk menjadi seorang guru sejati serta guru merdeka. Sedangkan kompetensi eksternalnya adalah seorang guru yang sejati dan merdeka ia akan mampu mengoptimalkan perkembangan zaman yang teknologinya semakin canggih. Dengan perkembangan zaman yang sudah tidak bisa terbendung lagi, seorang guru idealnya, bisa dengan kecerdasannya mampu memanfaatkan dan mengoptimalkan media digital untuk memotivasi serta mentrasfer berbagai macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik untuk peserta didik maupun guru tersebut.

Dengan media sosial dan jaringan internet, seorang guru bisa dengan cepat mencari, membaca, mengkaji, mentrasfer ilmu yang bermanfaat bagi para peserta didik. Yaitu melalu facebook, whatsapp, instagram, telegram, google classroom, google meet, website dan sebagainya. Sehingga hal-hal yang demikian ini bisa memudahkan dan mempercepat kolaborasi media pembelajaran yang unik serta bervariatif. Mudah-mudahan bisa membuat peserta didik termotivasi dan tumbuh semangat dalam menuntut ilmu dengan barbagai macam media pembalajaran serta menambah barbagai macam ilmu pengetahuan.

Kualitas yang keempat guru merdeka kuncinya karir (karir seorang yang merdeka). Ketika seorang guru sudah malang melintang mengikuti seminar, simposium, pelatihan keterampilan dan pelatihan-pelatihan profesi guru, maka sudah otomatis karirnya akan meningkat serta ilmu, wawasan dan penegetahuan akan bertambah, bisa jadi kesejahtraannya akan tercukupi dengan kata lain merdeka dari finansial. Di tambah lagi kecakapan kompetensi yang harus melekat pada diri seorang guru yaitu, pedagogis, kepribadian, sosial dan professional. Hal yang demikian ini, harus terpatri dan dikembangkan terus menerus pada jiwa raga seorang guru yang sejati dan merdeka. Seorang guru juga idealnya mempu mengkolaborasi kemampuan-kemampuan internalnya dengan kecakapan kemampuan ekternalnya yakni dengan media digital yang sekarang ini sudah dirasakan banyak manfaatnya di dalam dunia pendidikan.

Demikianlah empat kunci pengembangan diri guru merdeka, diantaranya; kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karir guru. Ketika berkembang dengan baik dan maksimal niscaya bisa dimungkinkan menjadi guru yang benar-benar merdeka. 

Wallahu a’lam bis-showab.

 

TENTANG PENULIS

AMINGSA, S. Pd.I, M.A., adalah putra Tambelang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Lahir di Bekasi, ia anak keenam dari pasangan Bapak Moh. Muin dan Ibu Nyamoliyah. Semasa sekolah SDN 1 Sukarapih Tambelang Bekasi, MTs Al-Muttaqien Tambelang Bekasi, di Mts Amingsa mendapat rangking juara kelas, minimal tiga besar. Ia meneruskan pendidikan ke Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, selama belajar di An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, ia sempat mengaji kitab Misbah Az-Zhulam langsung dengan Syekh Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dar (Alm), beliau adalah penyusun kitab Misbah Az-Zhulam dan menjadi tokoh ulama besar Nasional dari Kota Bekasi.


Wassalam,
Amingsa,
https://aminazara.blogspot.com
Tahun 2025


Kamis, 26 September 2024


 HADAPI HIDUP DENGAN MUDAH, TENANG DAN BAHAGIA LAHIR BATIN “LILLAHI TA’ALA”, MAKA SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA

(Oleh Amingsa) 

 

“Ikhtiar membangun kecerdasan intelektual, spiritual dan sosial adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan oleh semua manusia, agar kehidupannya itu akan menjadi mudah, tenang dan bahagia lahir batin. Sehingga pada akhirnya nanti akan indah dan semua baik-baik saja sesuai dengan jalan guratan Taqdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Indah”.

(Al-Faqir Amingsa)

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah Swt, yang sangat istimewa. Diantara keistimewaan manusia yaitu memiliki potensi kecerdasan intelektual, spiritual dan sosial. Dari tiga potensi yang telah diberikan oleh Allah Swt, hal inilah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Namun demikian, tidak sedikit manusia yang mengabaikan tiga potensi tersebut dan bahkan tidak sadar dengan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Maka yang terjadi adalah semua tidak baik-baik saja, sebab akan bertentangan dengan jalan guratan Taqdir yang sudah ditentukan oleh Allah Swt.

Sudah menjadi sunatullah manusia itu harus terus bergerak dan beraktivitas untuk menuju kehidupan yang lebih mudah menjalani, tenang menghadapi dan bahagia lahir batin melewatinya. Oleh karena itu agar terwujud menjalani hidup dengan banyak kemudahan. Ada beberapa poin penting yang harus diamalkan, poin penting yang pertama yaitu; terdapat dalam Al-Quran (surat Al-‘Alaq) IQRO… yakni rajin membaca, memahami, mengkaji dan mengaplikasikan kembali seruan Allah Swt, yang terdapat dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5;

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia (Allah) telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia (Allah) yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq: 1-5)

Sebuah kemauan ataupun mentalitas rajin membaca, memahami, mengkaji dan mengaplikasikan seruan Allah Swt. Maka akan terwujud potensi kecerdasan intelektual pada manusia tersebut, ketika semakin banyak membaca, memahami, mengkaji dan mengamalkan perintah Allah Swt., terutama IQRO dalam pengertian luas. Ada seribu milyar potensi sel otak yang diberikan oleh Allah Swt, pada setiap manusia dari semenjak lahir. Ini merupakan menjadi modal yang sangat penting bagi semua manusia untuk bisa membangun kecerdasan intelektualnya, sebab seribu milyar potensi sel otak tersebut akan mampu menyerap semua ilmu pengetahuan yang masuk kedalam otak. Demikanlah pentingnya seruan IQRO dalam kalam Ilahi.

Selanjutnya poin yang kedua agar dalam hidup senantiasa tenang yaitu dengan membangun kecerdasan spiritual. Potensi spiritual yang diberikan oleh Allah Yang Maha Batin merupakan potensi yang sangat mengagumkan sebab kita sebagai manusia yang telah dimuliakan-Nya. Agar kita dimuliakan oleh Allah Swt, maka thoriqoh yang harus dilalui adalah membangun kecerdasan spiritual tepatnya melalui ketaqwaan kepada Allah Swt. Sebagimana kalamullah yang termaktub dalam Al-Quran, ”Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling (cerdas spiritualnya) bertaqwa”.

Kata-kata bertaqwa sering kita dengar ketika khutbah jum’at, makna taqwa yang sudah mashur yaitu bersungguh-sungguh menjalankan semua ibadah yang Allah perintahkan dan meninggalkan semua larangan-Nya. Ternyata untuk meningkatkan kecerdasan spiritual dalam konteks taqwa ada dua ranah yang perlu diperhatikan yaitu, pertama mengerjakan semua ibadah yang diperintahkan dengan sungguh-sungguh maka secara otomatis kecerdasan spiritual akan terbangun. Ranah kedua bersungguh-sunggug meninggalkan semua apa-apa yang dilarang oleh Allah Swt, maka hal ini juga akan dapat membangun kecerdasan spiritual manusia itu sendiri.

Sedangkan poin penting yang ketiga agar kehidupan kita bahagia lahir batin yakni dengan banyak berbagi kebaikan, baik itu dalam bentuk materi ataupun non materi. Banyak berbagi kebaikan dengan harta diantaranya, zakat, infak, shodaqoh dan semua yang terkait dengan berbagi harta. Adapun yang terkait dengan non materi adalah berbagi kebaikan dalam hal yang bersifat abstrak yakni berbagi ilmu (pengetahun), nasehat, motivasi dan dengan semua kebaikan yang bersifat non materi. Niscaya akan terjadi kepuasan batin tersendiri, sehingga dapat terwujud juga kebahagian lahir batin.

Wallahu a’lam bis-showab.

 

TENTANG PENULIS 

AMINGSA, S. Pd.I, M.A., adalah putra Tambelang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Lahir di Bekasi, ia anak keenam dari pasangan Bapak Moh. Muin dan Ibu Nyamoliyah. Semasa sekolah SDN 1 Sukarapih Tambelang Bekasi, MTs Al-Muttaqien Tambelang Bekasi, di Mts Amingsa mendapat rangking juara kelas, minimal tiga besar. Ia meneruskan pendidikan ke Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, selama belajar di An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, ia sempat mengaji kitab Misbah Az-Zhulam langsung dengan Syekh Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dar (Alm), beliau adalah penyusun kitab Misbah Az-Zhulam dan menjadi tokoh ulama besar Nasional dari Kota Bekasi.

Menamatkan pendidikan Bahasa Arab, S1 di STAIN Cirebon dan S2 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tamantirto Yogyakarta. Semasa kuliah S1, aktif dalam dunia pergerakan kampus, pernah aktif di PMII Cabang Cirebon menjabat sebagi ketua bidang pengkaderan. Aktif di Ikatan Keluarga Mahasiswa Islam (IKMI) JABOTABEK menjabat sebagai wakil ketua. Aktif di Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) STAIN Cirebon. Aktif sebagai Anggota Dewan Mahasiswa (DPM) STAIN Cirebon. Sempat menjadi ketua Komisi Pemilihan Raya (KPR) STAIN Cirebon.

Sekarang aktivitasnya mengajar di MAN 1 Kota Cirebon Jawa Barat, sebagai Guru pengampu Bahasa Arab. Menjadi Pembina PAKIBRA dari tahun 2016 sampai 2020, Prestasi yang pernah di dapat juara harapan 2 tingkat Nasional tahun 2017 di Sumedang Jawa Barat dan juara 1 PBB tingkat Nasional tahun 2017 di Kaplongan Indramayu Jawa Barat. Menjadi tutor pengajar Kitab Kuning di Ma’ahad Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon dari tahun 2017 sampai sekarang.

Bagi pembaca yang budiman dan baik hati, jika ingin berkomunikasi dengan Penulis, bisa menghubungi gmail: amingsasyah@gmail.com, Facebook: Amingsa Syah, Instagram dan Telegram.

Wassalam,
Amingsa, S. Pd,I, MA.
aminazra.blogspot.com
Juli 2023

Minggu, 19 November 2023

SEBUAH INSPIRASI SEORANG GURU

SEBUAH INSPIRASI SEORANG GURU
Oleh Amingsa 



“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu (pengajar atau guru) beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
(QS. Al-Mujadalah 11).

Seorang guru memiliki tugas yang mulia dalam prespektif Al-Quran surat Al-Mujadalah ayat sebelas yakni akan diangkat derajatnya. Seorang guru juga merupakan agen perubahan untuk kemajuan dunia pendidikan dengan pemikiran yang visioner. Guru di tuntut untuk cakap diberbagai bidang agama dan ilmu pengatahuan disebabkan perkembangan media teknologi informasi semakin canggih yang tidak terbendung lagi, seakan-akan sudah masuk kesendi-sendi kehidupan terutama pada dunia pendidikan yang didalamnya ada peran guru (pengajar), peserta didik dan fasilitas-fasilitas pendidikan.

Seorang guru yang visioner (jauh berpandangan kedepan), pasti banyak rintangan dan tantangan yang komfleks didalam mentrasfer, mengajarkan dan mendidik para siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Di zaman sekarang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ataupun informasi sangat mudah dan cepat dengan media teknologi. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan besarnya adalah sudakah pemanfaatan media teknologi digital dengan maksimal, atau sebaliknya tidak sedikit yang terlalaikan karena media teknologi digunakan hal-hal yang negatif.

Sebagai seorang guru ataupun pengajar sangat perlu kiranya untuk merefleksikan diri agar menjadi seorang guru uswatun hasanah dan visioner. Dalam hal ini, kita tilik kembali pada kalam Allah SWT, Al-Quran surat Al-Mujadalah ayat sebelas. Seorang guru (pengajar) akan dimuliakan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT, syaratnya ada dua yakani guru yang beriman dan yang berilmu (berwawasan luas).

Seorang guru menjadi uswatun hasanah akan terwujud, jika kwalitas spirtualitas keimanannya mumpuni. Ini adalah modal dasar seorang guru (pengajar) untuk menjadi suri tauladan terhadap murid-muridnya. Dengan kecakapan spirtualitas iman yaitu mengajar dilandasi dengan ikhlas, ridho, dan kesabaran yang kuat serta hasil akhir dipasrahkan (tawakal) kepada Ilahi Robbi yang mengatur alam semesta ini. Karena ketentuan dan rencana Allah SWT, adalah rencana yang terbaik, pada hasil akhirnya baik itu mengajar ataupun rencana kegiatan yang lainnya.

Mengajar dengan mengedepankan kecerdasan spirtualitas iman yaitu ikhlas, ridho, dan sabar serta tawakal. Masih jarang dilakukan oleh seorang guru (pengajar) apalagi zaman sekarang hampir semua kegitan mengajar menggunakan media teknologi yang canggih. Sehingga tidak sedikit guru (pengajar) ketergantungan dengan media teknologi tersebut seperti handphone, laptop, iPad, infocus dan sebagainya. Ketika mengajar tidak ada media tersebut seakan-akan mengajar belum sempurna, padahal yang demikian itu belum tentu sempurna dan juga belum tentu berhasil. Oleh karenanya kekuatan spritualitas iman perlu agar dapat teraplikasikan pada seorang guru dan menjadi magnet cahaya hidayah untuk para peserta didiknya.

Seorang guru yang berilmu dan berwawasan luas akan menumbuhkan pemikiran-pemikiran yang visioner serta berpandangan maju kedepan. Apalagi sekarang sudah zamannya teknologi digital yang sudah super cangggih. Untuk mendapatan sebuah informasi ilmu pengetahuan dan wawasan luas cukup relatif mudah. Akan tetapi dengan kemudahan tersebut, banyak yang terlenakan baik itu seorang guru maupun para peserta didik. Tidak sedikit para guru ataupun para siswa yang menggunakan media teknologi mencari informasinya yang negatif yang tidak ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Oleh  Sebab itu, yang dibutuhkan yakni kecerdasan seorang guru dalam mencari informasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan, jangan sampai guru diperbudak oleh media teknologi tersebut.

Semakin cerdas dan bijak seorang guru dalam mengoptimalkan mencari informasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan, hal demikian inilah akan meminimalisir hal-hal yang negatif. Mencari ilmu agama dan ilmu pengetahuan dalam perspektif Al-Quran surat Al-Mujadalah ayat sebelas idealnya diimbangi dengan peningkatan keimanan, baik dalam ranah aplikasi ibadah-ibadah maupun spiritualitas. Setelah meningkat keimanan yang kuat dan bertambahnya pemahaman ilmu agama serta ilmu pengetahuan yang luas, maka insya Allah menjadi seoarang guru yang mumpuni, cakap, menjadi uswatun hasanah serta menjadi guru yang visioner.

Wallahu A’lam Bis-Showab.

Wassalam,
Amingsa, S, Pd,I, M.A
aminazra.blogspot.com
Tahun 2023


Senin, 23 Januari 2023

SEKILAS PROLOG PELATIHAN MC DESA MANDIRANCAN 2023

 

SEKILAS PROLOG PETATIHAN MC
MUI BEKERJASAMA DENGAN DKM DAN IRMAS AL-BAROKAH
DESA MANDIRANCAN
TAHUN 2023 



Al-hamdulillah wa syukrulillah wa ni’matillah, segala fuja dan fuji syukur hanya bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan anugrah serta nikmat yang sangat banyak, jikalaulah kita hitung nikmat-Nya niscaya tidak akan terhitung jumlahnya. Sehingga dengan semua anugarah, nikmat yang Allah berikan, kami Panita MUI bekerjasama dengan DKM dan IRMAS Al-Barokah, Pelatihan MC bisa menyelenggarakan acara tersebut dengan baik dan lancer sampai selesai.

Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa Risalah Islam, untuk kita semua sebagai ummatnya, agar kelak menjadi ummat harapan Baginda Rasulullah SAW, yang termaktub dalam Kalam Allah SWT, yaitu kalian (kita semua) adalah sepaling baik ummat (kuntum khairah ummah). Sudah menjadi keharusan bagi kita ummatnya, menjadikan Baginda Rasulullah SAW, sebagai idola, figur dan uswatun hasanah diberbagai aspek kehidupan, termasuk kegiatan pelatihan MC yang mudah-mudahan sedikit banyaknya menggunakan kalam-kalam mulia dan penuh makna yakni dengan kalam Baginda Nabi Muhammad SAW.

Seiring bejalannya waktu, kami Panitia MUI bekerja sama dengan DKM dan IRMAS Al-Barokah, Pelatihan MC Desa Mandirancan, telah menyelesaikan terselenggaranya acara tersebut, dengan mengundang para peserta dari IRMAS Al-Barokah, Pemuda Pancasila, Pemuda Karang Taruna dan semua Kadus Desa Mandirancan. Al-hamdulillah terlaksana dengan baik, antusias dan penuh dengan hal-hal yang bernilai positif. Bahkan salah satu Pemateri Pelatihan MC memberikan apresiasi yang sangat positif terkait dengan Pelatihan MC tersebut, yakni beliau menyampaikan acara semacam ini banyak manfaatnya, kalau perlu ada tindak lanjut dari pelatihan ini.

Namun kami  sebagai Panitia MUI bekerja sama dengan DKM dan IRMAS Al-Barokah, masih banyak kekurangan disana-sini dalam menyelenggarakan Pelatihan MC dan bahkan jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami Panitia MUI bekerja sama dengan DKM dan IRMAS Al-Barokah, Pelatihan MC mohon kritik dan saran yang membangun demi kemajuan terlaksananya agenda-agenda acara yang akan datang, lebih baik lagi dan mendekati kesempurnaan.

Demikianlah sekilas prolog penutupan Pelatihan MC yang diadakan oleh MUI Desa Mandirancan berkerjasama dengan DKM dan IRMAS Al-Barokah, semoga ini merupankan langkah awal yang baik untuk kita semua, terlebih untuk semua Pengurus MUI Desa Mandirancan agar lebih eksis dan bisa memberikan kemanfaatan baik untuk pengurus MUI maupun masyarakat sekitarnya wabil khusus Desa Mandirancan yang tercinta.   


                                                                                                Mandirancan,       Januari 2023
                                                                                               Panitia Pelatihan MC
                                                                                                   
 
                                                                                                MUI Desa Mandirancan
                                                                                                Berkerjasama dengan DKM dan
                                                                                                IRMAS Al-Barokah.


                                                                                               


Wasslam
aminazra.blogspot.com
tahun 2023

Rabu, 17 November 2021

USIA REMAJA USIA PENTING

                                             USIA REMAJA USIA PENTING 


Kaum remaja dan pemuda masa kini adalah tumpuan harapan bangsa
di masa yang akan datang. Oleh karena itu mereka perlu dibantu
menemukan dirinya sendiri (jati dirinya) dan membantu
pertumbuhan serta perkembangan mereka
kearah yang baik dan terpuji.
(Drs. Hasan Basri)

Perkembangan dunia teknologi digital dan gadget sudah tak terelakan lagi, bagaikan badai kehidupan yang sudah meluluh lantahkan sendi-sendi kehidaupan manusia. Menerjang sendi-sendi kehidupan sosial dan spritual manusia yang tidak mengenal batasan usia. Baik usia anak-anak, usia para remaja, usia pemuda dan orang dewasa, usia tua bahkan usia manula. Semuanya itu, seakan-akan manusia telah terbius dengan kecanggihan teknologi digital dan gadget.

Ketika sesorang manusia sudah pegang gadget ataupun tablet, iPad dan handphone, maka manusia tersebut seolah-oleh terbius dan sangat khusu’ menggunakannya. Bisa jadi kekhusu’annya pegang gadget mengalahkan khusu’ dalam ibadah. Hal demikian  ini yang sudah mengkoyakkan sendi kehidupan, pada aspek spritualitas manusia. Apa lagi dalam ibadah yang lainnya seperti dzikir, baca Al-Quran dan ibadah sunnah yang lainnya. Tidak sedikit manusaia yang sudah tidak menganggap penting, lebih memenpentingkan gadget (tablet, iPad dan handphone).

Dari sudut pandang aspek sosial, kabanyakan manusia yang sudah terhipnotis gadget rasa empati sudah mulai pudar bahkan hilang. Diantaranya yaitu saling membantu, saling tolong menolong, saling sapa, senyeum kepada orang lain dan sebagainya. Dampak teknologi digital dan gadget sangat dahsyat bisa mengkoyakkan aspek sosial kehidupan manusia, yang lebih mengerikan lagi adalah gradasai moral yang tidak sedikit telah terjadi pada kaum remaja. 

Oleh karenanya kaum remaja dan pemuda yang sejatinya menjadi tumpuan harapan bangsa. Mestinya harus dikawal dan diarahkan oleh orang tua dirumah dan bapak/ibu guru disekolah serta memantau dan mengontrol terhadap gadget yang mereka gunakan dikhuwatirkan adalah menggunakannya melampai batas kewajaran. Maka peran orang tua dirumah sangat penting untuk memotivasi dan mengarahkan anak-anaknya yang sudah usai remaja kearah lebih baik dan berakhlak mulia.

Bapak/ibu guru pun memilik peran sangat penting juga, guru tugasnya bukan hanya mentrasfer knowledge saja akan tetapi lebih dari itu. Maka disinilah peran guru sangat penting untuk mewujudkan generasi remaja menjadi tumpuan harapan orang tua, tumpuan harapan daerah, tumpuan harapan bangsa, dan lebih penting lagi menjadi tumpuan harapan agama. Sehingga para remaja otaknya tidak terbius dan tidak terkontaminasi penggunaan kecanggihan gadget yang melampaui batas kewajaran.

Mari kita renungkan nasehat untuk para remaja dan pemuda dari Syekh Mustafa Al-Ghalayani, “Wahai para remaja dan pemuda...! Sesungguhnya Allah menciptakan manusia, agar ia menjad seseorang yang senantiasa berbuat untuk kehidupannya, mengusahakan kebaikan di seluruh penjuru bumi (dunia), selalu mengupayakan kebaikan dari dirinya maupun umat manusia pada umumnya. Hal tersebut akan menjadi mustahil dicapai kecuali dengan keberanian untuk melangkah maju dan mengerahkan segenap kemampuan.

Pembaca yang baik hati, bagi para remaja tidak ada tawar menawar lagi, ia harus mampu menemukan jati dirinya. Untuk bisa berbuat sesuatu yang baik didalam kehidupannya sendiri dan mengusahakan kebaikan buat orang banyak. Hal yang demikian kalau para remajanya punya keberanian untuk berfikir melangkah lebih maju dan mengerakan segenap kemapuannya, baik lahir maupun batin.

Akan tetapi permasalahannya sekarang adalah sangat pelik dan rumit, bagi para remaja yang lemah motivasainya, lemah pengetahuan agamanya dan lemah kemauan untuk majunya. Bagi para remaja yang lemah seperti itu, pasti akan tergilas bahkan terset-seret dengan perkembangan teknologi digital dan gadget yang semaikin merasuki otak dan jiwa para remaja. Sehingga yang terjadi adalah menggunakan gadget melampaui batas kewajaran. Karena digadget tersebut, meraka tidak sedikit para remaja, yang tidak mampu memfilter informasai dari gadget itu, hahkan melihat film/you tube yang haram pun sudah menjadi kebiasaan mereka belum lagi informasi yang lainnya.

Oleh sebab itu, memotivasi dan mangarahkan para remaja untuk menemukan jati diri mereka. Wajib dilakukan oleh orang tua dan peran dunia pendidikan, dikarenkan pada usia remaja adalah usia yang rentan dengan tidak setabil. Kemudian ranah pendidikan ilmu agama juga sangat penting untuk membekali para remaja, agar para remaja yang punya pengetahuan agama, menjadi modal untuk bisa memfilter informasi-informasi yang tidak pantas dilihat oleh para remaja 

Wallau ‘alam bis-shawab.

 

Wassalam,

Amingsa

November 2021

aminazra.blogspot.com

aminbhsarab.blogspot.com

aminamjad9.blogspot.com