PANDANGAN
AL-QUR’AN DAN HADITS
MENGAJAR SEBAGAI PANGGILAN HATI
(Amingsa)
Aktivitas mengajar adalah salah satu
kegiatan yang sangat dihargai dalam ajaran Islam. Tidak sekadar pekerjaan,
mengajar merupakan bagian dari ibadah dan wujud kepedulian terhadap kemajuan
umat. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, mengajar memiliki kedudukan yang tinggi karena
erat kaitannya dengan penyebaran ilmu, pencerahan jiwa atau spiritual, dan
pembentukan akhlak mulia.
Keterangan dalam Surah Al-Mujadalah ayat
11, Allah SWT, menyatakan bahwa Dia (Allah) akan meninggikan derajat
orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu. Ini menunjukkan bahwa dalam
kegiatan mengajar bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga menjadi
jalan kemuliaan bagi pengajar itu sendiri. Derajat yang tinggi bukan hanya di
mata manusia, tetapi juga di pandangan Allah SWT.
Sebab mengajar itu, panggilan hati
berarti menjalankan tugas tersebut dengan penuh ketulusan hati. Rasulullah SAW
bersabda, “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Niat inilah yang menjadi pembeda antara mereka yang
mengajar hanya karena kewajiban pekerjaan dan mereka yang mengajar karena
ketulusan hati atau cinta dan tanggung jawab spiritual. Mengajar juga merupakan
warisan tugas kenabian. Allah menyebutkan dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2 bahwa
Rasul diutus untuk membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa, dan mengajarkan
Kitab dan Hikmah. Dengan demikian, guru sejatinya adalah mereka yang meneruskan
misi para nabi, yakni membimbing umat menuju kebenaran melalui ilmu.
Dalam pandangan Islam, ilmu disebut
sebagai cahaya atau nur. Mengajar berarti menyalakan cahaya tersebut dalam
kehidupan murid-muridnya. Dalam Surah Az-Zumar ayat 9, Allah SWT, menegaskan
bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Ini menjadi
motivasi bagi para guru untuk terus berbagi ilmu demi mencerahkan kehidupan.
Rasulullah SAW, bersabda “bahwa salah satu amal yang pahalanya tidak akan
terputus adalah ilmu yang bermanfaat. (HR. Muslim). Artinya, guru yang
mengajar dengan hati dan niat ikhlas akan terus mendapatkan pahala selama
ilmunya diamalkan oleh orang lain, bahkan setelah wafat sekalipun.
Aktivitas mengajar juga menuntut
kesabaran dan ketekunan. Dalam Surah Ali Imran ayat 200, Allah memerintahkan
orang-orang beriman untuk bersabar dan saling menguatkan. Guru yang sabar dalam
menghadapi karakter murid yang beragam menunjukkan bahwa ia mengajar dengan
sepenuh hati, bukan semata-mata karena kewajiban. Mengajar merupakan bentuk
dakwah yang mulia. Dalam Surat An-Nahl ayat 125, Allah SWT, memerintahkan agar
berdakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Seorang guru, melalui ilmunya,
menyampaikan kebaikan dan membimbing murid-muridnya ke jalan yang lurus.
Dakwah melalui pendidikan adalah bentuk
dakwah yang paling efektif dan berkelanjutan. Rasulullah SAW adalah teladan
terbaik dalam mendidik umat. Beliau tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga
membentuk karakter dan menanamkan akhlak yang mulia. Sabda beliau, “Aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad) menunjukkan bahwa
pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga keluhuran budi.
Keutamaan guru dalam Islam ditegaskan
pula oleh para ulama. Imam Al-Ghazali menyebut guru sebagai orang tua spiritual
yang membentuk akal dan jiwa murid. Oleh karena itu, mengajar dengan hati akan
membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bertanggung jawab dan
berakhlak mulia. Mengajar adalah bentuk sedekah ilmu. Rasulullah SAW, bersabda,
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala
seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim). Dengan mengajar,
seorang guru membantu muridnya menjalani kehidupan lebih baik, dan pahalanya
akan terus mengalir.
Sejarah Islam mencatat banyak tokoh besar
yang menjadikan belajar dan mengajar sebagai panggilan hidup, seperti Imam
Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Bukhari. Mereka bukan hanya ulama, tetapi juga
guru sejati yang mengajar karena cinta kepada ilmu dan karena dorongan
keimanan. Aktivitas mengajar juga bermakna membentuk akhlak. Al-Quran Surat
Luqman memberikan contoh bagaimana seorang ayah mendidik anaknya dengan hikmah.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter adalah bagian penting dari proses
belajar-mengajar yang dilakukan dengan hati yang tulus dan kebijaksanaan.
Keikhlasan guru dalam belajar dan
mengajar sangat mempengaruhi keberkahan ilmu. Ulama seperti Ibnu Qayyim
menyebut bahwa ilmu yang disampaikan dengan keikhlasan yang tulus akan lebih
mudah meresap ke dalam hati murid-muridnya. Guru yang belajar dan mengajarnya
dengan hati tak hanya mengisi akal, tapi juga menghidupkan jiwa dan kecerdasan
spiritualnya.
Akhirnya, mengajar adalah bentuk cinta
yang tulus disertai dengan doa. Guru sejati tidak hanya menyampaikan materi,
tetapi juga mendoakan kebaikan murid-muridnya. Cinta yang tulus dan doa inilah
yang menjadi kekuatan spiritual seorang guru, yang membuat ilmu itu tidak hanya
dibaca, ditangkap, dipahami akan tetapi juga ilmu tersebut melekat di dalam
hati murid-mutridnya.
Wallahu a’lam
bis-showab.
TENTANG PENULIS
AMINGSA, S. Pd.I,
M.A., adalah putra Tambelang, Kabupaten Bekasi, Jawa
Barat, Lahir di Bekasi, ia anak keenam dari pasangan Bapak Moh. Muin dan Ibu
Nyamoliyah. Semasa sekolah SDN 1 Sukarapih Tambelang Bekasi, MTs Al-Muttaqien
Tambelang Bekasi, di Mts Amingsa mendapat rangking juara kelas, minimal tiga
besar. Ia meneruskan pendidikan ke Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) An-Nida
Al-Islamy Kota Bekasi, selama belajar di An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, ia
sempat mengaji kitab Misbah Az-Zhulam langsung dengan Syekh Muhammad
Muhajirin Amsar Ad-Dar (Alm), beliau adalah penyusun kitab Misbah
Az-Zhulam dan menjadi tokoh ulama besar Nasional dari Kota Bekasi.
Menamatkan pendidikan Bahasa Arab, S1 di
STAIN Cirebon dan S2 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tamantirto
Yogyakarta. Sekarang aktivitasnya mengajar di MAN 1 Kota Cirebon Jawa Barat,
sebagai Guru pengampu Bahasa Arab. Menjadi Pembina PAKIBRA dari tahun 2016
sampai 2020, Prestasi yang pernah di dapat juara harapan 2 tingkat Nasional
tahun 2017 di Sumedang Jawa Barat dan juara 1 PBB tingkat Nasional tahun 2017
di Kaplongan Indramayu Jawa Barat. Menjadi tutor pengajar Kitab Kuning di
Ma’ahad Jami’ah UIN Syekh Nurjati Cirebon dari tahun 2017 sampai sekarang.
Bagi pembaca yang budiman dan baik hati, jika ingin berkomunikasi dengan Penulis, bisa menghubungi gmail: amingsasyah@gmail.com, Facebook: Amingsa Syah, Instagram dan Telegram.














0 komentar:
Posting Komentar