Latest Entries »

Senin, 27 April 2026

PANDANGAN AL-QUR’AN DAN HADITS MENGAJAR SEBAGAI PANGGILAN HATI

 

PANDANGAN
 AL-QUR’AN DAN HADITS
MENGAJAR SEBAGAI PANGGILAN HATI
(Amingsa)



Aktivitas mengajar adalah salah satu kegiatan yang sangat dihargai dalam ajaran Islam. Tidak sekadar pekerjaan, mengajar merupakan bagian dari ibadah dan wujud kepedulian terhadap kemajuan umat. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, mengajar memiliki kedudukan yang tinggi karena erat kaitannya dengan penyebaran ilmu, pencerahan jiwa atau spiritual, dan pembentukan akhlak mulia.

Keterangan dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11, Allah SWT, menyatakan bahwa Dia (Allah) akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu. Ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan mengajar bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga menjadi jalan kemuliaan bagi pengajar itu sendiri. Derajat yang tinggi bukan hanya di mata manusia, tetapi juga di pandangan Allah SWT.

Sebab mengajar itu, panggilan hati berarti menjalankan tugas tersebut dengan penuh ketulusan hati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Niat inilah yang menjadi pembeda antara mereka yang mengajar hanya karena kewajiban pekerjaan dan mereka yang mengajar karena ketulusan hati atau cinta dan tanggung jawab spiritual. Mengajar juga merupakan warisan tugas kenabian. Allah menyebutkan dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2 bahwa Rasul diutus untuk membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah. Dengan demikian, guru sejatinya adalah mereka yang meneruskan misi para nabi, yakni membimbing umat menuju kebenaran melalui ilmu.

Dalam pandangan Islam, ilmu disebut sebagai cahaya atau nur. Mengajar berarti menyalakan cahaya tersebut dalam kehidupan murid-muridnya. Dalam Surah Az-Zumar ayat 9, Allah SWT, menegaskan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Ini menjadi motivasi bagi para guru untuk terus berbagi ilmu demi mencerahkan kehidupan. Rasulullah SAW, bersabda “bahwa salah satu amal yang pahalanya tidak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat. (HR. Muslim). Artinya, guru yang mengajar dengan hati dan niat ikhlas akan terus mendapatkan pahala selama ilmunya diamalkan oleh orang lain, bahkan setelah wafat sekalipun.

Aktivitas mengajar juga menuntut kesabaran dan ketekunan. Dalam Surah Ali Imran ayat 200, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bersabar dan saling menguatkan. Guru yang sabar dalam menghadapi karakter murid yang beragam menunjukkan bahwa ia mengajar dengan sepenuh hati, bukan semata-mata karena kewajiban. Mengajar merupakan bentuk dakwah yang mulia. Dalam Surat An-Nahl ayat 125, Allah SWT, memerintahkan agar berdakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Seorang guru, melalui ilmunya, menyampaikan kebaikan dan membimbing murid-muridnya ke jalan yang lurus.

Dakwah melalui pendidikan adalah bentuk dakwah yang paling efektif dan berkelanjutan. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam mendidik umat. Beliau tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan akhlak yang mulia. Sabda beliau, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad) menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga keluhuran budi.

Keutamaan guru dalam Islam ditegaskan pula oleh para ulama. Imam Al-Ghazali menyebut guru sebagai orang tua spiritual yang membentuk akal dan jiwa murid. Oleh karena itu, mengajar dengan hati akan membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Mengajar adalah bentuk sedekah ilmu. Rasulullah SAW, bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim). Dengan mengajar, seorang guru membantu muridnya menjalani kehidupan lebih baik, dan pahalanya akan terus mengalir.

Sejarah Islam mencatat banyak tokoh besar yang menjadikan belajar dan mengajar sebagai panggilan hidup, seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Bukhari. Mereka bukan hanya ulama, tetapi juga guru sejati yang mengajar karena cinta kepada ilmu dan karena dorongan keimanan. Aktivitas mengajar juga bermakna membentuk akhlak. Al-Quran Surat Luqman memberikan contoh bagaimana seorang ayah mendidik anaknya dengan hikmah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter adalah bagian penting dari proses belajar-mengajar yang dilakukan dengan hati yang tulus dan kebijaksanaan.

Keikhlasan guru dalam belajar dan mengajar sangat mempengaruhi keberkahan ilmu. Ulama seperti Ibnu Qayyim menyebut bahwa ilmu yang disampaikan dengan keikhlasan yang tulus akan lebih mudah meresap ke dalam hati murid-muridnya. Guru yang belajar dan mengajarnya dengan hati tak hanya mengisi akal, tapi juga menghidupkan jiwa dan kecerdasan spiritualnya.

Akhirnya, mengajar adalah bentuk cinta yang tulus disertai dengan doa. Guru sejati tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendoakan kebaikan murid-muridnya. Cinta yang tulus dan doa inilah yang menjadi kekuatan spiritual seorang guru, yang membuat ilmu itu tidak hanya dibaca, ditangkap, dipahami akan tetapi juga ilmu tersebut melekat di dalam hati murid-mutridnya.

Wallahu a’lam bis-showab.

 

TENTANG PENULIS

AMINGSA, S. Pd.I, M.A., adalah putra Tambelang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Lahir di Bekasi, ia anak keenam dari pasangan Bapak Moh. Muin dan Ibu Nyamoliyah. Semasa sekolah SDN 1 Sukarapih Tambelang Bekasi, MTs Al-Muttaqien Tambelang Bekasi, di Mts Amingsa mendapat rangking juara kelas, minimal tiga besar. Ia meneruskan pendidikan ke Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, selama belajar di An-Nida Al-Islamy Kota Bekasi, ia sempat mengaji kitab Misbah Az-Zhulam langsung dengan Syekh Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dar (Alm), beliau adalah penyusun kitab Misbah Az-Zhulam dan menjadi tokoh ulama besar Nasional dari Kota Bekasi.

Menamatkan pendidikan Bahasa Arab, S1 di STAIN Cirebon dan S2 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tamantirto Yogyakarta. Sekarang aktivitasnya mengajar di MAN 1 Kota Cirebon Jawa Barat, sebagai Guru pengampu Bahasa Arab. Menjadi Pembina PAKIBRA dari tahun 2016 sampai 2020, Prestasi yang pernah di dapat juara harapan 2 tingkat Nasional tahun 2017 di Sumedang Jawa Barat dan juara 1 PBB tingkat Nasional tahun 2017 di Kaplongan Indramayu Jawa Barat. Menjadi tutor pengajar Kitab Kuning di Ma’ahad Jami’ah UIN Syekh Nurjati Cirebon dari tahun 2017 sampai sekarang.

Bagi pembaca yang budiman dan baik hati, jika ingin berkomunikasi dengan Penulis, bisa menghubungi gmail: amingsasyah@gmail.com, Facebook: Amingsa Syah, Instagram dan Telegram.

Wassalam,
Amingsa
http://aminazra.blogspot.com
http://aminbhsarab.blogspot.com
http://buku.bek.link/
Tahun 2026


0 komentar:

Posting Komentar